Skip to toolbar

Ikhtiar Cerdas dalam Pengembangan Budaya Lokal: Belajar dari Sanggar Seni di Banyuwangi

Ikwan Setiawan
Staf Pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember

Pendahuluan
Dalam ranah kebudayaan, Banyuwangi dikenal luas—baik dalam sekala regional, nasional, maupun global—sebagai wilayah geo-kultural tempat tumbuh-suburnya beragam kesenian tradisional, dari gandrung, janger/jinggoan, kuntulan, hingga angklung. Selain itu, kabupaten di ujung timur Jawa ini juga kaya akan ritual, seperti Kebo-keboan, Seblang (Olehsari dan Bakungan), Gredoan, Tumpeng Sewu, Petik Laut, Puter Kayon, dan masih banyak lagi. Semua atraksi seni dan ritual tersebut menjadi ‘jiwa kehidupan’, khususnya bagi komunitas Osing yang terkenal dinamis, terbuka, dan adaptif, tetapi tetap menjalankan ajaran-ajaran leluhur. Sebagai kekayaan kultural, kesenian dan ritual menjadi penanda identitas lokal yang terus berkembang di tengah-tengah hegemoni budaya modern-global saat ini (Subaharianto & Setiawan, 2012). Para pegiat seni dan tokoh adat seolah tidak pernah ragu untuk terus merajut dan memperkuat jalinan-jalinan kultural yang mengikat masyarakat Osing, sehingga mereka mampu menunjukkan dan menegaskan kedirian dalam lanskap kultural Banyuwangi yang terdiri dari bermacam etnis. Tidak mengherankan kalau sejak Orde Baru sampai sekarang, pemerintah kabupaten menggalakkan agenda pariwisata budaya untuk mempromosikan kekayaan kultural Osing (Anoegrajekti, 2004).
Namun, apa yang jarang diperbincangkan dalam ranah akademis adalah kontribusi penting para seniman dan sanggar seni yang ikut menyemarakkan amtosfer kultural di bumi Blambangan. Meskipun di masa Orde Baru pendirian sanggar seni tidak bisa dilepaskan dari usaha aparat pemerintah untuk menggiatkan sektor pariwisata budaya dan meminimalisir potensi perlawanan masyarakat lokal, memasuki pada era 2000-an para seniman sanggar relatif lebih mandiri dalam berkarya dan membina para siswa, anak-anak dan remaja. Tulisan singkat ini akan memaparkan usaha-usaha yang dilakukan para seniman dan siswa sanggar di Banyuwangi dalam menghasilkan tari-tari garapan sebagai bentuk negosiasi identitas masyarakat lokal. Dalam berkarya, mereka selalu menjadikan kekayaan budaya lokal sebagai sumber kreativitas, sehingga tari-tari garapan yang dihasilkan selalu mengingatkan penikmat akan karakteristik budaya Banyuwangi. Selain itu, melalui karya-karya garapan, para seniman dan siswa sanggar seni ikut berkontribusi dalam pengembangan dan pemberdayaan potensi lokal di tengah-tengah arus besar globalisasi dan modernisasi. Tulisan ini, paling tidak, bisa memberikan gambaran bagaimana kecintaan terhadap tradisi bisa mendorong para seniman dan siswa untuk terus berkarya.

Ikhtiar Cerdas di Tengah-tengah Gelombang Perubahan
Diakui atau tidak, masyarakat lokal telah dan tengah mengalami banyak pergeseran dan perubahan ekonomi, sosial, dan kultural sebagai akibat pertemuan dengan modernitas yang sudah berkembang sejak masa kolonial hingga saat ini di mana globalisasi menjadi sesuatu yang semakin biasa. Nilai dan praktik budaya modern-global dengan mudah bisa diidentifikasi melalui rumah bergaya kota, institusi sekolah, serta produk industri budaya dan media. Artinya, budaya modern-global telah menjadi orientasi dominan masyarakat di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang mereka rasakan. Banyak pakar budaya mulai pesimis dengan realitas pergeseran dan perubahan selera kultural masyarakat yang lebih menyukai sinetron, musik ala Jakarta, pakaian pabrikan, telepon seluluer/HP, dan lain-lain. Tentu, kekhawatiran tersebut wajar adanya, apalagi sebagian besar kaum remaja dan generasi muda sudah semakin biasa dengan pernik-pernik digital dan selera seni global. Namun, apakah kita harus membiarkan kekhawatiran itu menjadi pemenang?

Para seniman Banyuwangi, rupa-rupanya, tidak ingin larut dalam kekhawatiran itu. Mereka memilih terus berikhtiar secara cerdas untuk menegosiasikan kekayaan budaya lokal yang masih dijalankan masyarakat. Melalui pendirian sanggar seni yang memfokuskan pada pelatihan dan penggarapan tari, mereka membidik kaum remaja dan generasi muda sebagai siswa sanggar yang diarahkan dan dibimbing dalam kerja-kerja kreatif. Alex Jokomulyo, pimpinan sanggar seni Jingga Saba (Desa Wonosobo, Srono, Banyuwangi) memaparkan:

“Sederhana saja, Mas, budaya Banyuwangi, khususnya kesenian itu harus dilestarikan di tengah-tengah gempuran budaya modern saat ini. Nah, anak-anak dan kaum remaja itu adalah generasi belia yang masih bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan kesenian yang menyenangkan hati mereka. Kesenian yang saya ajarkan kepada mereka, adalah kesenian yang mudah, tari-tari sederhana yang saya ambilkan dari kesenian grandrung, tapi gerakannya yang sederhana saja. Jadi, yang penting mereka senang dan suka dulu. Dengan perasaan senang itulah mereka akan mau kembali mencintai kesenian tradisional mereka sendiri, selain menonton film kartun di teve. Ibarat rumah, anak-anak itu kan fondasinya, kalau fondasinya kita perkuat, maka rumah akan kuat dan bagus.” (Wawancara, 7 Oktober 2013)

Alex bukanlah birokrat budaya, bukan pula akademisi, tetapi pikirannya mampu melampaui keruwetan kebijakan dan konsep teoretis yang biasa melingkupi kedua pihak tersebut. Pembiasaan kesenian tradisional kepada anak-anak dan kaum remaja melalui pelatihan-pelatihan sederhana yang menyenangkan menjadi kunci-utama untuk memunculkan rasa cinta mereka terhadap kekayaan lokal. Ketika para siswa sanggarnya diposisikan sebagai “fondasi” sebuah rumah, maka ia dan mereka tengah menyiapkan “rumah besar” yang akan berdiri kokoh, meskipun banyak pernik kultural lain yang akan memasukinya. Strategi ini merupakan sebuah lompatan kreatif yang akan menimbulkan medan magnet kesenian yang terus membesar dan meluas di tengah-tengah kehidupan anak-anak dan kaum remaja. Ketika medan magnet itu semakin kuat, pada saat itulah para siswa sanggar akan menemukan keasyikan dan kesenangan dalam berlatih tari gandrung sebagai akar kreatif.

Meskipun mengajarkan tari gandrung dan tari garapan berbasis gandrung, bukan berarti sanggar seni di Banyuwangi menerapkan manajemen asal-asalan; tanpa metode. Sunardiyanto, pimpinan Blambangan Art School (Rogojampi & Kalibaru, Banyuwangi) memilih untuk menerapkan manajemen modern di sanggarnya (Wawancara, 27 Oktober 2013). Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, ia ingin kesenian Banyuwangi, khususnya tari, berangkat dari pemahaman dan pengetahuan yang bersifat akademis, dalam artian bisa dikenali pakem estetiknya, karena selama ini masih bersifat hafalan. Kedua, ia ingin menyebarluaskan pengetahuan tari ke khalayak luas, bukan hanya masyarakat Osing, tetapi juga masyarakat dari etnis lain, semisal Jawa dan Madura. Itulah mengapa ia juga mendirikan sanggar di Kalibaru yang mayoritas warganya dari etnis Madura. Ketiga, ia dilanda rasa prihatin karena banyak sanggar seni di Banyuwangi yang hanya berorientasi komersil, sehingga sulit mencari seniman yang bisa diajak untuk melakukan eksplorasi tari maupun musik. Keempat, dengan mendidik generasi muda, Sunar lebih mudah untuk melakukan eksperimen-eksperimen estetik yang tidak hanya berwarna konvensional, tetapi berwarna kontemporer, dalam artian bisa menyerap aspek-aspek baru. Kelima, dengan mendidik anak-anak SD hingga SMA, berarti Sunar tengah melakukan investasi kultural yang cukup berharga karena hal itu berarti bahwa ia menyiapkan generasi seniman yang akan meramaikan kehidupan budaya di Banyuwangi dalam jangka 10 hingga 20 tahun ke depan.

Program-program pelatihan di sanggar memunculkan antusiasme dari para peserta. Meskipun mereka harus membayar biaya pendaftaran—rata-rata Rp. 50.000,- di setiap sanggar—dan iuran per latihan, orang tua tidak merasa keberatan. Memang masih ada sebagian masyarakat yang men-stigma para calon penari, namun kegigihan para peserta tidak luntur. Bahkan, karena kegigihan itu pula, Sabar Harianto, pimpinan sanggar seni Lang-lang Buana (Banyuwangi), melibatkan para siswa dalam tari garapan serta mempersilahkan para siswa senior untuk menggarap tari garapan. Sabar menjelaskan:

“Karena motivasi awal saya mendirikan Lang-lang Buana adalah untuk mendidik para peserta didik sampai mereka bisa melatih, maka saya harus berani membuat terobosan. Kalau biasanya di Banyuwangi, para ketua sanggar-lah yang selalu menggarap tari dan musik, saya mencoba hal yang beda. Bagi para anggota yang saya lihat mempunyai kemampuan dan pengetahuan di atas rata-rata, dan sudah berpengalaman mengikuti beberapa pagelaran, saya berikan mereka kepercayaan untuk menciptakan tari garapan ataupun musik yang mengiringi tari tersebut. Kepada publik juga saya umumkan kalau anak buah saya yang menata koreografi atau musiknya, saya hanya bersifat mengarahkan yang perlu-perlu saja. Artinya, saya tidak mengklaim garapan mereka sebagai garapan saya. Istilahnya, saya berusaha memberikan kesempatan kepada mereka untuk show of force, biar lebih dikenal publik.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Kebijakan yang diterapkan Sabar, tentu saja, bisa dipandang sebagai langkah berani. Mengapa? Karena kalau garapan para anggotanya baik dan mendapatkan apresiasi publik, maka mereka bisa menandingi capaian-capaian Sabar selama ini. Namun, ia tidak mempermasalahkannya karena, berdasarkan prinsip pendidikan, keberhasilan seorang peserta didik akan membawa nama harum pendidiknya. Dan, karena motivasi awal Sabar memang ingin menelorkan para pelatih tari handal, tentu saja, keberhasilan peserta didiknya menegaskan kualitas par exellence dari seorang Sabar di tengah-tengah kanca kesenian dan kebudayaan Banyuwangi. Selain itu, ketidakmauannya untuk mengklaim hasil karya anggotanya menunjukkan kedewasaannya dalam proses kreatif.

Budaya Lokal sebagai Sumber Kreatif Tari Garapan
Salah satu karya yang banyak ditelorkan oleh sanggar seni di Banyuwangi adalah tari garapan berbasis tari tradisional, gandrung. Sebagai tari tradisional yang menjadi ikon kultural Banyuwangi, gandrung merupakan rujukan utama ketika para seniman hendak membuat tari garapan. Apapun bentuk gerakannya, nuansa gandrung masih bisa ditemukan dalam tari garapan. Bisa dipastikan, tidak ada seniman tari di Banyuwangi yang tidak mendasarkan tari garapan mereka dari kelincahan gerak gandrung. Mereka seperti mempunyai tanggungjawab kolektif untuk terus mengembangkan tari gandrung dalam bentuk-bentuk yang lebih baru, baik untuk kepentingan festival maupun pagelaran. Pilihan pertama, biasanya para seniman tetap menggunakan label gandrung sebagai judul tari garapan, tetapi sudah mendapatkan sentuhan gerak koreografis yang relatif baru. Tujuannya adalah memperkaya kasanah tari gandrung di Banyuwangi agar berkembang secara dinamis, tidak sebatas pada tari gandrung terop, menghindari kejenuhan.

Dari proses kreatif yang dijalani Alex Jokomulyo dan kawan-kawannya di Jingga Saba, terciptalah Keter Gandrung. Tari garapan ini, pada dasarnya, tidak jauh berbeda dengan gandrung. Apa yang membedakan adalah masuknya elemen-elemen kultural kontemporer seperti goyang yang sedikit erotis. Meskipun demikian, goyang tersebut sekedar sebagai ‘pemanis’ agar penonton tidak jenuh. Dari kasanah gandrung pula, Sabar menciptakan tari berjudul Kembang Goyang. Tari ini terinspirasi dari “kembang yang menthul di atas omprok gandrung,” apabila digerakkan pemakainya kembang itu akan goyang-goyang. Tari ini melambangkan seorang gadis yang kelincahannya luar biasa. Dengan kelincahan tersebut, si gadis akan eksis dalam kehidupan, disukai teman-teman sebayanya ataupun digandrungi para lelaki muda. Kadang-kadang, karena saking lincah dan aktifnya, si gadis juga sulit diatur karena ingin mendapatkan banyak pengalaman dalam hidup. Di sinilah dibutuhkan kesabaran orang tua agar tidak membunuh kelincahan tersebut, tetapi mengembangkannya sebagai basis untuk semakin kreatif dalam kehidupan mereka.

Selain menampilkan makna dan pesan kultural, tari garapan para seniman/wati Banyuwangi juga diarahkan kepada garapan yang lebih populer secara tematik. Artinya, ada karya koreografi yang dikembangkan dari persoalan-persoalan yang populer di masyarakat. Sabar Harianto, misalnya, menciptakan beberapa tari yang bersifat tematik, dalam artian sesuai dengan kondisi kultural masyarakat. Tari Condro Mowo, misalnya, menggambarkan keyakinan dalam masyarakat lokal tentang kucing brang telon (kulitnya terdiri dari tiga warna; putih, hitam, dan coklat) yang dianggap memiliki kesaktian. Kucing ini, misalnya, menjadikan tikus tidak berani masuk ke dalam rumah warga. Kalau menatap cecak di dinding langsung jatuh. Karya garapan tersebut menunjukkan kejelian untuk memahami dan menyerap kekayaan mitis dalam masyarakat sebagai basis untuk menciptakan tata gerak tari. Tentu saja dibutuhkan kepakaran untuk mentransformasi gerak-gerak binatang bernama kucing brang telon ke dalam gerak-gerak manusia yang secara fisik dan emosi berbeda. Satu pelajaran penting yang bisa dipetik adalah bahwa dalam berkarya para seniman Banyuwangi memiliki kekayaan inspirasi, baik dari persoalan mitos maupun kekayaan kultural lain dalam masyarakat.

Kepekaan terhadap permasalahan masyarakat, baik yang berlangsung di lingkup regional maupun nasional, yang ditransformasikan ke dalam karya koreografis merupakan bentuk respons sosio-kultural para seniman Banyuwangi dalam bentuk bahasa seni tari. Alex Jokomulyo menciptakan tari Mungging Cangklakan. Maksud dari tari ini adalah satru (musuh) yang tidak bisa akur, yang gambarkan melalui hewan kucing dan tikus. Kedua binatang itu selalu bermusuhan. Nah, pada umumnya si tikus kalah. Tapi di karya ini, tikusnya yang menang karena mereka menggalang persatuan. Kucingnya cuma satu, sekuat apapun dia, kalau tikusnya banyak, pasti tidak akan menang. Makanya, sekuat apapun, setinggi apapun pangkat seseorang, kalau ia tidak mau mengerti dengan orang kecil, maka ia akan sirna. Sementara, dari banyaknya bencana yang melanda Indonesia, Alex terinspirasi untuk menciptakan Kuntul Kemesut. “Kemesut” artinya kaget, seperti orang-orang yang pada bingung dan resah karena banyaknya bencana. Adapun untuk menegaskan keberagaman kultural Banyuwangi yang terdisi dari bermacam etnis, Alex menciptakan tari Prawan Pandalungan, yang selain mengusung kekayaan koreografis dan musikan Osing, ia juga memasukkan kasanah Madura, Jawa, maupun Ponorogo. Melalui tari ini ia menegaskan bahwa masyarakat Banyuwangi harus belajar menghargai perbedaan budaya sebagai kekuatan, bukan sebagai kelemahan.

Tentu bukan hanya Alex Jokomulyo, Sabar Harianto, dan Sunardiyanto yang mampu melakukan proses kreatif tersebut, tetapi juga para seniman tari lainnya. Artinya, sebagai manusia kreatif yang mewarisi tradisi berkesenian secara turun-temurun melalui proses pembelajaran dari para seniman senior, para seniman tari Banyuwangi bukan hanya memiliki kelihaian dalam berkarya, tetapi juga memiliki tanggungjawab sosio-kultural melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam karya. Perpaduan antara kemampuan kreatif dan tanggung-jawab sosio-kultural inilah yang menjadikan para seniman sanggar bukan hanya mengejar kepuasan materi, tetapi juga menegosiasikan nilai dan makna terkait bagaimana masyarakat seyogyanya memahami persoalan yang mereka hadapi. Dengan ikhtiar-ikhtiar cerdas dan kreatif itulah, budaya lokal akan tetap semarak dan berdaya, meskipun globalisasi semakin biasa dalam kehidupan sehari-hari (Schuerkens, 2005).

Catatan Penutup
Eksplorasi koreografis dan musikal yang dilakukan para seniman sanggar di Banyuwangi mengimplikasikan beberapa hal menarik. Pertama, kesenian tradisional Banyuwangi bersifat terbuka terhadap pengaruh-pengaruh estetik dari kesenian lain. Kedua, para seniman Banyuwangi berpandangan lentur dalam memosisikan kesenian tradisional, sehingga memungkinkan mereka untuk memasukkan koreografi baru, tanpa meniadakan karakteristik tradisional yang sudah ada sebelumnya. Ketiga, pengayaan estetik yang berbasis pada kesenian tradisional menjadikan karya-karya baru-inovatif tetap diakui sebagai bagian dari budaya Banyuwangi. Dengan kelenturan dalam memahami dan mengeksplorasi kekayaan lokal itulah, para seniman dan siswa sanggar berhasil melakukan ikhtiar kebudayaan untuk terus mengembangkan dan memberdayakan budaya Banyuwangi sehingga dikenal secara luas, baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Ikhtiar-ikhtiar cerdas yang dilakukan para seniman dan siswa sanggar di Banyuwangi bisa diposisikan “kegigihan kultural”. Ketika negara masih belum bisa menelorkan kebijakan strategis-operasional dalam pengembangan budaya lokal, ternyata para seniman dan siswa sanggar telah melakukan terobosan kreatif untuk terus menegosiasikan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal dengan cara menyenangkan. Negosiasi kekayaan budaya lokal dalam bentuk ekspresi maupun makna secara ajeg ke dalam benak generasi penerus, paling tidak, bisa mem-bekas-kan jejak-jejak kultural dalam memori individual dan kolektif mereka.

* Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang saya kerjakan bersama Drs. Andang Subaharianto, M.Hum., Drs. Albert Tallapessy, M.A., Ph.D., dan Hat Pujiati, S.S., M.A., dengan judul Menyerbukkan Kreativitas: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Osing sebagai Penopang Budaya Lokal dan Industri Kreatif di Banyuwangi. Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka bertiga atas izin untuk menggunakan sebagian materi laporan untuk keperluan tulisan yang bersifat individual. Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap isi tulisan ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbud RI yang telah memberikan biaya untuk penelitian ini melalui skema hibah penelitian Unggulan Perguruan Tinggi.

Daftar Bacaan
Anoegrajekti, Novi. 2004. Pengembangan Gandrung Banyuwangi dalam Rangka Penguatan Aset Budaya dan Industri Wisata. Laporan Penelitian. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember.
Schuerkens, Ulrike, “The Sociological and Anthropological Study of Globalization and Localization”. Dalam Current Sociology, Vol. 5, No. 3/4, 2003.
Subaharianto, Andang & Ikwan Setiawan. 2012. Menjadi Sang Hibrid: Hibriditas Budaya dalam Masyarakat Lokal. Laporan Penelitian. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.