Skip to toolbar

Eks-nominasi Ideologi dalam Narasi: Model Analisis Mitos-Barthesian dalam Kajian Sastra

Ikwan Setiawan

Pengajar di Fakultas Sastra Univ. Jember

* Artikel ini pada awalnya saya presentasikan dalam Seminar Tematik, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Jember, 18 Desember 2012, dengan judul “Eks-nominasi Ideologi dalam Penandaan: Metode Analisis Mitos-Barthesian dalam Kajian Linguistik dan Sastra”. Saya sengaja membuang bahasan tentang kajian linguistik untuk lebih memfokuskan pada kajian sastra, sehingga berimplikasi pada perubahan judul seperti di atas. Beberapa perbaikan terkait metode dan contoh analisis saya lakukan untuk memperjelas kajian. Untuk itu saya menyampaikan terima kasih kepada para mahasiswa dan dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Jember atas masukan dan kritiknya selama dan sesudah seminar.

Pendahuluan

Ketika masih duduk di bangku SD, tepatnya pada pertengahan era 1980-an, setiap minggu pagi, saya dan kawan-kawan sebaya di dusun berkumpul di rumah, mengerubuti sebuah radio tua untuk mendengarkan program Sanggar Cerita Anak-anak yang menyiarkan dongeng “Kancil dan Harimau”, “Timun Mas”, “Putri Salju”, “Cinderella”, dan lain-lain. Kami begitu senang, karena dari program itulah kami bisa membayangkan bermacam tokoh dalam dunia imajiner dan mendapatkan pesan tentang baik-jahat, pandai-bodoh, dan rajin-malas dalam bentuk yang mudah dicerna. Pesan-pesan moral melalui anggitan (construction) audio-imajiner, memang tidak langsung membuat kami menjadi anak-anak yang selalu berperilaku baik. Setiap bermain di sawah, misalnya, kami masih “sering mencuri pepaya masak atau mangga untuk mengganjal perut”. Namun, paling tidak, dengan cerita dari radio itu kami mulai tahu bagaimana harus menjadi orang-orang baik yang mempraktikkan kebajikan ataupun kejujuran, kedermawanan, maupun ketulusan agar tidak celaka dalam kehidupan.

Cerita singkat di atas menunjukkan betapa mitos berupa dongeng dan legenda, pada masa dan ruang tertentu, mampu menjadi ‘teman’ yang menuntun dan mengarahkan pemahaman subjek manusia terhadap nilai-nilai kultural dan moralitas yang mengikat masyarakat partikular dengan narasi-narasi yang menghibur sekaligus meyakinkan, tetapi tidak dogmatis. Kekuatan seperti itu pula yang mendorong Roland Barthes, seorang pemikir (pasca-)strukturalis Perancis, lewat buku tipisnya yang rumit, Mythology (1983), memodifikasi konsep mitos dengan menggunakan semiologi/semiotika untuk melihat kehidupan modern manusia di mana bermacam pengetahuan dan ideologi dinarasikan melalui tuturan-tuturan yang lebih atraktif. Dalam pemahamannya, mitos bukan semata-mata dongeng yang menyampaikan pesan, tetapi cara penyampaian pesan sehingga ia menjadi bisa diterima secara wajar.

Mengikuti pemikiran Barthesian, dalam tulisan ini saya akan menawarkan model analisis mitos untuk mengkaji karya sastra, khususnya yang berbentuk naratif—cerita pendek, novella, novel, dan drama. Produk kesastraan bukan lagi dibaca sebagai struktur naratif yang memapankan makna berdasarkan relasi-relasi penanda-petanda konvensional, tetapi lebih sebagai sebuah proses penandaan yang menaturalisasi dan mendepolitisasi apa-apa yang bersifat politis/ideologis menjadi tampak tidak politis/ideologis. Untuk keperluan tersebut, pertama-tama, saya memaparkan konsep-konsep teoretis mitos-Barthesian sebagai acuan untuk menjabarkan langkah kedua, yakni memformulasi model metode analisis yang bisa dilakukan oleh seorang pengkaji terhadap sebuah karya sastra. Selanjutnya, saya akan menggunakan metode analisis mitos-Barthesian untuk mengkaji novel terjemahan, Pengantin Dusun di Beverly Hills (2008), karya penulis diaspora India di Amerika Serikat, Kavita Daswani. Contoh analisis tersebut saya harapkan bisa mempermudah pemahaman tentang bagaimana mengoperasikan mitos-Barthesian dalam kajian sastra.

Penandaan dan Eks-nominasi Ideologi dalam Mitos

Dalam pemahaman Barthes, mitos merupakan “sistem komunikasi untuk menyampaikan pesan” sehingga ia bukanlah “objek”, “konsep”, atau “ide”, melainkan moda penandaan, sebuah “bentuk” (1983: 109). Mitos tidak didefinisikan oleh objek material pesannya, tetapi oleh cara yang di dalamnya objek menyampaikan pesan. Mitos bisa bersumber dari moda tulisan (wacana tulis, liputan tulis, buku, dan lain-lain) atau moda representasi piktorial (foto, film, olah raga, ataupun pertunjukan). Karena mitos menyampaikan pesan, maka dengan sendirinya ia merupakan bagian dari sistem semiologis yang melibatkan penandaan. Menurut Barthes,

Mitos merupakan ‘sistem semiologis-tingkat-kedua’ [a second-order-semiological system]. Tanda (hubungan asosiatif antara citra dan konsep) dalam sistem pertama [denotatif-konotatif] semata-mata menjadi penanda [signifier] dalam sistem kedua……Di dalam mitos terdapat dua sistem semiologis, pertama, yang diatur dalam hubungannya dengan yang lain, yakni sistem bahasa, bahasa [atau moda representasi yang berasimilasi dengan bahasa], yang saya sebut objek-bahasa karena bahasalah yang menjadikan mitos terikat dalam tatanan untuk membangun sistemnya sendiri. Kedua, mitos itu sendiri, yang saya sebut metabahasa, karena ia merupakan bahasa kedua, yang di dalamnya seseorang membicarakan yang pertama. Ketika merefleksikan dalam metabahasa, semiolog tidak perlu lagi mempermasalahkan komposisi dari objek-bahasa, tidak perlu lagi terlalu mempertimbangkan detil dari skema linguistik. Ia hanya perlu memahami terma totalnya atau tanda global, dan hanya lantaran itulah terma tersebut meminjamkan dirinya untuk mitos. (1983: 116)

Atau secara skematis bisa digambarkan sebagai berikut:

1. Penanda 2. Petanda
3. TandaI. Penanda

Makna dan Bentuk

II. Petanda/Konsep

 

III. Penandaan (Mitos)

 Untuk bisa membaca sebuah mitos, kita tidak harus bersusah payah membedah relasi “penanda” dan “petanda” pada level linguistik/tanda denotatif (penandaan pertama), tetapi cukup mengetahui makna tanda denotatif secara umum, karena dari tanda inilah mitos akan dibicarakan. Tanda denotatif hanya menjadi sekedar penanda—“makna” dan “bentuk”yang berasosiasi dengan petanda/konsep dalam level mitos. Sebagai total dari tanda-tanda linguistik, “makna-mitis” mempunyai nilai-nya sendiri; ia berkaitan pengalaman historis dan mengasumsikan jenis pengetahuan tertentu maupun tataran komparatif fakta. Ketika menjadi “bentuk-mitis”, makna meninggalkan keterkaitannya dengan persoalan-persoalan tersebut; mengosongkan dirinya. Yang tertinggal hanyalah bentuk “huruf”, “kata”, kalimat, atau “paragraf”, misalnya. Namun, apa yang perlu diperhatikan adalah bahwa bentuk tidak menekan atau menghilangkan makna sepenuhnya, ia hanya “memperlemah”nya, atau meletakkannya berjarak (Barthes, 1983: 117). Makna-mitis bisa jadi kehilangan nilainya (mengabaikan sejarah yang menyertainya), namun tetap mempertahankan eksistensinya.

Adapun “konsep-mitis” selalu bersifat historis dan intensional, sehingga ia menjadi motivasi yang menyebabkan mitos dituturkan (Barthes, 1983: 118-119). Konsep-mitis merupakan penjabaran gramatis yang membentuk-kembali rantai sebab-akibat atau motif-tujuan. Melaluinya kita bisa melacak-kembali pengetahuan ataupun sejarah yang berjarak dengan makna, meskipun tidak kaya lagi, karena hanya menjadi semacam tatabasa yang mendorong lahirnya mitos. Dengan demikian, karakter dari konsep-mitis adalah disesuaikan dengan kelompok pembaca tertentu agar mempermudah penerimaan. Salah satu kelebihan konsep-mitis adalah bahwa ia bisa dibicarakan melalui banyak bentuk-mitis dalam bermacam moda representasi. “Ke-perempuan-an domestik”, misalnya, bisa dibicarakan dalam gambar “perempuan yang sedang memasak di dapur”, cerpen atau novella tentang kesetiaan istri di dalam rumah tangga, dan lain-lain.

Dengan pemahaman tersebut, mitos merupakan sistem representasi—produksi makna—dalam penandaan yang berfungsi untuk mendistorsi dan kemudian menaturalisasi sebuah pengetahuan atau ideologi sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah masyarakat atau bangsa; praktik depolitisasi. Apa yang harus dipahami adalah bahwa mitos-mitos dalam masyarakat tidak pernah bersifat netral (nir-kepentingan) karena selalu melibatkan motivasi-motivasi partikular sehingga untuk bisa mengkajinya secara komprehensif dibutuhkan kemampuan untuk menghubungkan kode-kode mitis dengan kode-kode kultural yang ada dalam masyarakat (Sunardi, 2004: 88-101) ataupun formasi sosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung.

Naturalisasi dan depolitisasi menjadikan ideologi dalam penandaan mitis tampak sebagai sesuatu yang dibutuhkan, tanpa muatan politis. Barthes menyebut proses tersebut sebagai “eks-nominasi” (ex-nomination). Berikut paparannya:

Saat ini, sebuah fenomena penting tengah terjadi dalam kaitannya dengan penamaan rezim ini: sebagai fakta ekonomi, kelas borjuis telah dinamai dengan mudah: kapitalisme secara terbuka dinyatakan. Sebagai fakta politis, kelas borjuis memiliki beberapa kesulitan dalam mengakui dirinya: tidak ada partai ‘borjuis’ di Dewan. Sebagai fakta ideologis, kelas borjuis benar-benar musnah: ia telah mengkaburkan namanya, beranjak dari realitas menuju representasi, dari manusia ekonomi menuju manusia mental. Ia memang bersepakat dengan fakta-fakta, namun tidak berkompromi tentang nilai-nilai; ia menjadikan statusnya mengalami operasi eks-nominasi yang sesungguhnya: kelas borjuis didefinisikan sebagai kelas sosial yang tidak ingin dinamai… Dengan demikian, ideologi borjuis bisa menyebar melalui segala hal sehingga akan kehilangan namanya tanpa risiko: tak seorangpun yang akan mengembalikan namanya kepada kelas borjuis. (1983: 138-139)

Eks-nominasi, dalam konteks yang lebih luas, akan menutupi kepentingan politis yang ada di balik pengetahuan maupun ideologi dominan dalam masyarakat. Eks-nominasi yang berlangsung dalam mitos-mitos yang bersebaran akan menjadi praktik representasi yang memproduksi secara ajeg keberadaan pengetahuan atau ideologi dominan, tanpa harus menamakan diri mereka. Representasi yang dihadirkan bukanlah sekedar merefleksikan peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan maupun ideologi dominan, tetapi mengolahnya lagi melalui imajinasi dan produk kreatif.

‘Mengganggu’ Kemapanan Ideologi Dominan dengan Mitos-Kedua

Meskipun implikasi pemikiran mitos-Barthesian lebih diarahkan kepada proses naturalisasi dan eks-nominasi pengetahuan atau ideologi dominan melalui praktik-praktik penandaan populer, Barthes tetap memberikan kemungkinan berlangsungnya ‘gangguan’ atau subversi terhadap proses tersebut melalui konsep mitos-kedua.

….senjata terbaik untuk melawan mitos yang memungkinkan adalah dengan cara memitifikasinya secara berkebalikan sehingga bisa digunakan untuk memproduksi mitos artifisial; dan mitos bentukan baru ini akan menjadi fakta dalam mitologi. Karena mitos mencuri bahasa sesuatu, kenapa tidak mencuri mitos? Apa yang diperlukan adalah menggunakan mitos sebagai titik keberangkatan bagi rantai-semiologis-ketiga, mengambil penandaan mitis (pada mitos pertama) sebagai terma pertama dalam mitos kedua….mitos-tatanan-kedua….kekuatan mitos kedua adalah bahwa ia memberikan mitos pertama dasarnya sebagai kenaifan yang terlihat. (1983: 135)

Atau kalau digabungkan dengan penandaan level linguistik dan mitos pertama, maka akan ditemukan skema berikut:

1. Penanda 2. Petanda
3. TandaI. Penanda

Makna dan Bentuk

II. Petanda/Konsep

 

III. Penandaan (Mitos I)Ia. Penanda, Makna dan Bentuk IIa. Petanda/Konsep
IIIa. Penandaan II (Mitos II) 

Dengan memunculkan mitos-kedua, Barthes sebenarnya ingin menunjukkan bahwa masih ada celah untuk melakukan ‘subversi kreatif’ terhadap representasi mitis yang secara konvensional sudah dipenuhi oleh mitos-mitos dominan; tidak dengan cara menghindari mitos-mitos tersebut, tetapi menggunakannya sekedar sebagai penanda untuk memunculkan mitos baru, mitos-kedua/mitos-artifisial/mitos-eksperimental. Dengan mitos-kedua, penandaan mitis sebagai basis terbentuknya mitos—sebutlah mitos-pertama—diposisikan sekedar sebagai penanda baru yang juga berupa makna dan bentuk serta terhubung dengan petanda/konsep dalam mitos-kedua.

Penjabaran di atas memberikan penjelasan bahwa para pembuat mitos bisa menggunakan sisi-sisi kehidupan dan kode-kode sosio-kultural yang dipenuhi ideologi dominan dalam penandaan linguistik dan mitis-pertama, tetapi pada saat bersamaan mereka melakukan intervensi untuk menunjukkan kelemahan sekaligus sebagai bentuk kritik atau resistensi terjadap eksistensi ideologi tersebut. Ideologi patriarkal yang masih dominan dalam masyarakat kontemporer, misalnya, dibiarkan tetap hadir sebagaimana yang dipahami oleh secara konsensual. Artinya, lelaki tetap saja direpresentasikan sebagai subjek yang berkuasa terhadap kehidupan domestik dan publik, penuh pertimbangan rasional, dan memimpin perempuan dalam kehidupan ekonomi, sosio-kultural, dan politik. Namun, di tengah-tengah penandaan terkait ke-lelaki-an tersebut dihadirkan pula satu atau beberapa peristiwa penandaan yang menunjukkan kelemahan seorang lelaki. Misalnya, ia kelimpungan ketika cintanya ditolak oleh perempuan yang sudah lama ditaksirnya. Maka, di balik semua kekuatan dan rasionalitasnya, lelaki tetaplah makhluk lemah yang dalam fase tertentu “sangat tidak istimewa”. Dalam jagat kontemporer yang dipenuhi kontestasi bermacam ideologi melalui budaya populer, kemungkinan-kemungkinan menggunakan penandaan mitis-kedua sangat terbuka lebar. Sama dengan model penyampaian pesan dalam mitos-pertama, dengan menggunakan mitos-kedua, semangat subversif tidak hadir dalam cerita hitam-putih yang dogmatis, tetapi dalam wujud yang menyerupai realitas sehingga pembaca/penonton/pendengar bisa menerima semangat tersebut sebagai kewajaran.

Meng-operasional-kan Mitos Barthesian: Metode Analisis

Sebelum membincang masalah metode analisis, ada baiknya kita perhatikan contoh bagaimana Barthes menggunakan mitos untuk membaca sampul majalah Paris Match:

Saya berada di tukang potong rambut, dan sebuah majalah Paris Match disodorkan pada saya. Pada sampul halamannya, seorang negro muda berseragam Perancis sedang memberikan penghormatan, dengan kedua matanya terangkat, mungkin diarahkan pada lipatan bendera triwarna. Semua itu adalah makna dari foto itu. Namun,….saya melihat dengan baik sekali apa yang gambar itu tandakan pada saya: bahwa Perancis adalah sebuah Kerajaan besar, bahwa seluruh anak-anak negerinya, tanpa ada diskriminasi warna kulit, setia mengabdi pada benderanya, dan bahwa tidak ada jawaban yang lebih baik terhadap para pencela kolonialisme sekutu dibandingkan dengan semangat yang ditunjukkan oleh negro ini dalam melayani para penindasnya. Oleh karena itu, saya berhadapan dengan sebuah sistem semiologis yang lebih besar: ada sebuah penanda, yang dengan sendirinya sudah terbentuk dalam sistem terdahulu (seorang prajurit kulit hitam memberikan penghormatan kepada Perancis); ada sebuah petanda yakni campuran yang disengaja antara sifat ke-Perancis-an dan kemiliteran. Akhirnya, ada suatu kehadiran petanda melalui penanda. [1983: 116]

Berdasarkan pembacaan tersebut, Barthes (1983: 128-129) menawarkan tiga cara kerja untuk membaca penandaan mitis dalam produk-produk representasi. Pertama, fokus pada “penanda kosong” (bentuk). Dengan cara ini, konsep dibiarkan mengisi bentuk dari mitos, sehingga penandaan menjadi bersifat literal: si Negro yang memberi hormat adalah “contoh” dari imperialitas Perancis. Dia adalah “simbol” dari konsep tersebut. Cara ini biasanya digunakan oleh para kreator mitos, seperti penulis berita, pewarta foto, sineas, sastrawan, maupun pembuat iklan. Kedua, fokus pada “penanda penuh” (makna). Kita membedakan antara makna dan bentuk. Sebagai konsekuensi dari distorsi yang dipaksakan, kita membatalkan penandaan mitos yang ada. Maka, bentuk merupakan kepentingan: si Negro yang memberi hormat merupakan alibi dari imperialitas Perancis. Posisi ini biasanya digunakan oleh para mitolog. Ketiga, fokus pada “penanda mitis” yang terbentuk dari keseluruhan makna dan bentuk. Kita memperhatikan mekanisme pembentukan mitos, dinamika yang ada di dalamnya. Si Negro yang memberi hormat, bukan lagi menjadi contoh/simbol ataupun alibi. Ia merupakan “kehadiran” yang sebenarnya dari imperialisme Perancis.

Cara pembacaan ketigalah yang bisa menghubungkan skema mitis dengan persoalan ideologis, terutama untuk menjelaskan bagaimana mitos berkaitan dengan kepentingan-kepentingan yang ada dalam sebuah masyarakat partikular. Dengan kata lain, untuk bisa melampaui dari semiologi menuju ideologi, pengkaji mitos bisa menempatkan dirinya pada posisi pembacaan ketiga. Hal itu tidak berarti bahwa cara pertama dan kedua tidak sesuai. Untuk kepentingan analisis linguistik dan sastra, kita bisa saja memilih salah satu di antara ketiganya. Namun, kalau ingin lebih dalam lagi menemukan menemukan fakta-fakta penanda mitis yang menyatu dalam struktur teks, yang selanjutnya menjadi acuan untuk menemukan pesan ideologis, maka lebih baik cara ketigalah yang digunakan.

Dengan cara ketiga, terdapat beberapa tahapan analisis yang bisa dilakukan pengkaji, tentu saja, setelah kita menentukan permasalahan dan objek material kajian. Pertama, menemukan makna denotatif/tanda global/penanda mitis yang terbentuk dari relasi penanda-petanda dalam penandaan level pertama sebuah teks. Sekali lagi, apa yang perlu diingat adalah bahwa penanda mitis dipilah ke dalam makna dan bentuk. Kedua, analisis pada aspek makna yang menuntut kejelian pengkaji untuk melihat relasi makna yang ada dengan peristiwa, wacana, persoalan sosio-kultural, maupun pengetahuan dalam masyarakat. Pengkaji bisa menggunakan referensi-referensi yang sudah ada ataupun pengalaman empirik yang berasal dari kehidupan nyata terkait makna tersebut. Dari analisis makna ini akan diketahui betapa sebuah tanda denotatif bukanlah realitas mandiri yang terpisah dari jagat luar yang penuh persoalan, kontestasi, dan kepentingan. Ketiga, analisis pada aspek bentuk. Berbeda dengan analisis pada aspek makna yang cukup kaya karena berjalin-kelindan dengan bermacam persoalan dan wacana, analisis pada aspek bentuk akan mengerucut kepada dinamika praktik penandaan yang menjadikan pesan, pengetahuan, atau ideologi partikular dihadirkan secara alamiah. Sebenarnya, cara baca mitos-Barthesian bisa dianggap cukup ketika tiga cara baca tersebut sudah dilakukan. Namun, karena terdapat prinsip eks-nominasi, menurut saya, analisis bisa dilanjutkan pada tahapan untuk ‘membuka’ ideologi atau kepentingan politis yang menjadikan penandaan mitis ada melalui analisis relasi kontekstual dengan kondisi sosio-kultural, ekonomi, dan politik yang berkembang dalam masyarakat, tergantung topik kajian kita.

Terkait metode analisis dengan mitos-kedua, pada dasarnya, cara kerja mula-mula tetap dilakukan dengan cara mitos-pertama sebagaimana dijabarkan di atas, untuk kemudian menggunakannya sebagai basis untuk membicarakan yang kedua. Berikut contoh yang diberikan Barthes:

Sastra menawarkan beberapa contoh yang luar biasa dari mitologi-mitologi artifisial tersebut. Di sini saya hanya memberikan contoh dari karya Flaubert Bouvard and Pècuchet. Karya itu bisa disebut mitos eksperimental, mitos tatanan-kedua. Bouvard dan temannya Pècuchet merepresentasikan jenis tertentu dari kelas borjuis (yang kebetulan sedang ada konflik dengan strata borjuis lainnya): wacana mereka sudah membentuk tipe mitis dari tutur; bahasa tidak bermakna, namun makna tersebut merupakan bentuk kosong dari petanda konseptual….Pertemuan bentuk, makna, dan konsep, dalam sistem mitis pertama, merupakan penandaan yang menunjukkan retorika antara Bouvard dan Pècuchet. Pada titik inilah (Saya memecah proses ke dalam komponen-komponennya demi analisis) Flaubert mengintervensi: terhadap sistem mitis pertama, yang sudah menjadi sistem semiologi tatanan-kedua, di mana ia memasukkan rantai ketiga, yang di dalamnya hubungan pertama merupakan penandaan, atau terma akhir, dari mitos pertama. Retorika Bouvard dan Pècuchet menjadi bentuk dari sistem baru; konsep di sini berada dalam diri Flaubert sendiri, untuk pandangan Flaubert terhadap mitos yang mana Bouvard dan Pècuchet telah membangun untuk diri mereka sendiri: yakni konsistensi dari inklinasi intelektual mereka, ketidakmampuan mereka untuk merasa puas, rangkaian kepanikan dalam masa magang mereka, singkatnya akan saya katakan sebagai….ke-bouvard-an-dan-ke-pècuchet-an. Dan sebagai penandaan akhirnya, adalah berupa buku, Bouvard dan Pècuchet, untuk kita. (1983: 136)

Dengan menggunakan contoh di atas, terdapat beberapa cara analisis dalam mitos-kedua. Pertama, menggunakan penandaan mitis-pertama dalam sebuah teks sebagai sekedar penanda (makna dan bentuk) pada tatanan mitos-kedua. “Retorika antara Bouvard dan Pècuchet” yang dibangun melalui penandaan dalam mitos-pertama menjadi sekedar bentuk dan makna baru dalam penandaan mitis-kedua yang terhubung dengan konsep baru. Tidak seperti pada analisis makna dan bentuk pada mitos-pertama yang sangat kaya, analisis makna dan bentuk pada mitos-kedua hanya difokuskan kepada konsep yang dibangun dalam penandaan mitis-kedua. Kedua, analisis konsep dilakukan dengan melihat peristiwa, ucapan, atau deskripsi yang muncul dalam sebuah teks yang memberikan penekanan berbeda—bersifat subversif—serta bisa menunjukkan kenaifan ataupun kelemahan dari formasi ideologi dominan dalam masyarakat. Bouvard dan Pècuchet yang melakukan retorika terkait kelas borjuis, nyatanya membangun dalam diri mereka sendiri konsep “ke-bouvard-an-dan-ke-pècuchet-an” yang ternyata diwarnai dengan “konsistensi dari kehendak intelektual mereka”, “ketidakmampuan mereka untuk merasa puas”, dan “rangkaian kepanikan dalam masa magang mereka”. Tahapan analisis ketiga adalah membaca kehadiran mitos-kedua tersebut dalam konteks relasional dengan persoalan pertarungan ideologis dalam masyarakat kontemporer, sehingga kita bisa melihat posisi ideologis yang dipilih oleh seorang penulis melalui rangkaian penandaan mitis-pertama dan kedua dalam sebuah teks, seperti Flaubert memilih untuk menunjukkan kelemahan borjuis.

Ketika Narasi menjadi Ideologi: Karya Sastra dalam Tatapan Mitos-Pertama dan Kedua

Cara kerja mitos-Barthesian dalam kajian sastra juga akan menggunakan cara kerja yang saya gunakan untuk menganalisis teks pidato; tentu saja melalui beberapa modifikasi dalam tataran operasionalnya karena karya sastra adalah sebuah dunia imajinatif. Meskipun demikian, karya sastra bersifat naratif, seperti novel, novella, ataupun cerita pendek, akan menggunakan bangunan kebahasaan yang sama dengan kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa menghubungkan unit-unit naratif di dalam sebuah karya dengan realitas sosio-kultural, ekonomi-politik, maupun ideologi dalam masyarakat. Dalam contoh analisis sastra, selain menggunakan analisis mitos-pertama, saya juga akan menggunakan cara kerja mitos-kedua untuk menganalisis sebuah novel. Tentu saja, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih novel yang kita asumsikan memuat praktik penandaan yang memunculkan ideologi dominan, sekaligus mengkritik atau mensubversinya.

Karena karya sastra merupakan struktur naratif yang disusun oleh begitu banyak peristiwa dalam logika alur cerita, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah menentukan unit-unit naratif [sama dengan unit teks] sebagai submitos yang akan dianalisis. Untuk keperluan contoh analisis ini, saya akan menggunakan sebuah novel terjemahan yang menceritakan kehidupan sepasang pengantin baru dari India yang menetap di Amerika Serikat, Pengantin Dusun di Beverly Hills (Kavita Daswani, 2008, selanjutnya disingkat PDBH). Alasan utama untuk menggunakan analisis mitos-pertama dan mitos-kedua adalah bahwa setelah membaca novel ini saya menemukan makna-makna kultural terkait budaya patriarkal India yang masih dipertahankan oleh subjek diaspora[1] ketika mereka hidup di negara yang mengedepankan kesamaan, kebebasan, rasionalitas, dan individualisme, Amerika Serikat. Dalam kondisi itu, tokoh utama, Priya, menemukan dirinya dalam tegangan kultural, di satu sisi dituntut mematuhi ajaran tradisi dan di sisi lain harus beradaptasi dengan tuntutan kehidupan yang benar-benar baru. Dinamika dan kemungkinan subversif yang dilakukan Priya di tengah-tengah tegangan kultural yang ia alami itulah yang akan dibaca dengan mitos-kedua.

I    Belum pernah satu pun wanita dalam keluargaku mencari nafkah.

Tidak satu pun wanita dalam seluruh keluarga besarku, sejauh aku tahu, pernah membuka-buka iklan lowongan kerja dan bergeser dengan gelisah di kursi sementara orang tidak dikenal menanyainya tentang pengalaman kerjanya. Apa yang akan dikatakannya? Bahwa profesi utamanya adalah melayani ayah dan saudara laki-lakinya pada masa mudanya, kemuddian suami dan anak laki-lakinya setelah menikah?

Maka, aku benar-benar tercengang ketika ibu mertuaku menyodok perutku dengan sendok kayu, mengeluh karena aku masih belum bisa menjadikannya nenek, lalu menuntut agar aku setidaknya memberikan manfaat dan ikut mencari nafkah.

“Hidup di Amerika sangat mahal,” katanya sambil menyodok-nyodokkan piranti masak itu dengan begitu keras sehingga untung sekali tidak ada bayi di dalam perutku. “Ini bukan India. Di negeri ini, semua orang bekerja”. (Daswani, 2008: 1-2)

Secara denotatif, unit naratif I bermakna “kekagetan/ketercengangan istri muda India yang masih memahami tradisi sebagai ‘istri rumahan’ dalam menghadapi pernyataan ibu mertuanya tentang ke-Amerika-an; semua orang bekerja”. Sebagai makna-mitis, tanda global tersebut, pertama-tama, terhubung dengan kode-kode kultural dalam masyarakat dan budaya patriarkal India, utamanya terkait posisi subordinat perempuan/istri di dalam keluarga. Seperti diutarakan, Priya, dalam tradisi keluarga di India, seorang perempuan ada yang bekerja, kecuali menjadi pelayan yang baik bagi anggota keluarga lelaki; ayah dan saudara laki-laki. Atau, ketika ia sudah menikah di mana tradisi India mengharuskannya tinggal bersama mertua, seorang istri harus melayani suami, melayani ayah mertua, dan membantu kerja rumahan ibu mertua. Posisi jender inilah yang menjadikan perempuan India jarang menempati posisi top leader dalam pekerjaan di luar rumah, seperti di perusahaan atau jabatan publik.

Pemahaman-pemahaman itulah yang membuatnya tercengang ketika ibu mertuanya menyampaikan bahwa dia bisa mencari nafkah karena hidup di Amerika sangat mahal. Ibu mertua sedang menyampaikan sebuah gagasan ideal terkait konsep-mitis ke-Amerika-an yang berbeda dengan konsep-mitis ke-India-an, di mana semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, harus bekerja untuk bisa menjalani kehidupan konsumeristik di negara Paman Sam ini. Semua orang tahu bahwa kehidupan kapitalistik di Amerika mensyaratkan kompetisi berbasis pengetahuan dan skill tinggi agar bisa merasakan dan mengalami impian kebebasan dan kemakmuran sebagai individu. Sebagai bentuk-mitis, semua perbedaan itu hanya berubah menjadi ketercengangan seorang istri muda, karena yang ia pahami seorang ibu mertua di India tidak akan pernah menyarankan hal serupa. Ke-India-an dan ke-Amerika-an yang berbeda terkait posisi perempuan hadir dalam submitos I.

Meskipun, si ibu mertua menyarankannya untuk bekerja, bukan berarti ia terbebas dari pekerjaan rumah tangga. Setiap hari ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan keluarga, dari membersihkan dapur, memasak, hingga membersihkan lantai. Priya berusaha mengerjakan dengan penuh pengabdian karena sebagai seorang istri Hindu, ia memang wajib melakukan semua pekerjaan itu; mengabdi sepenuh hati kepada suami dan keluarga mertua. Pun demikian untuk urusan pekerjaan, ia tidak diperbolehkan mencari pekerjaan yang menurut pandangan keluarga dianggap “tidak pantas”.

II    Maka, pada malam ketika ibu mertuaku menyarankanku mencari pekerjaan, pikiran pertamaku adalah menyampaikan ambisiku di masa lalu untuk menjadi wartawan….

Maka kini aku berharap mertuaku akan menghadiahi sikap berbaktiku selama ini dengan mengabulkan satu permohonan kecilku.

“Sama sekali tidak!” seru ayah mertuaku, bereaksi seakan-akan aku mengatakan aku mau menjadi penari telanjang. “Wartawan, hah! Aku tidak mau punya menantu perempuan yang melakukan pekerjaan omong kosong seperti itu. Lingkungan masyarakat di sini kecil, aku tidak ingin orang-orang berkata melihat istri anak laki-lakiku satu-satunya bersama berbagai macam laki-laki, menemui mereka sendirian. Ada kemungkinan kau harus melakukan wawancara di kamar hotel, kan? Mungkin mereka akan memberimu minuman beralkohol? Lalu apa yang akan kau lakukan? Jika kau seorang dokter, profesi yang terhormat, untukku tidak ada masalah. Tetapi tidak untuk pergi ke sana kemari sendirian. Aku tidak akan menolerir itu. Kau harus mencari pekerjaan sederhana.”

Pengantin baru tidak seharusnya membantah mertua mereka, maka aku menyerahkannya kepada suamiku, berharap dia akan mendukungku. Tetapi, dia tidak melakukan apa pun, menunduk di atas piringnya….

“Baik, Mummy, Papa,” kataku perlahan. “Apa pun kehendak kalian.” (Daswani, 2008: 40-41)

Secara denotatif, unit naratif di atas bermakna “larangan ayah mertua terhadap keinginan menantu perempuannya untuk menjadi wartawan yang dianggapnya profesi jelek”. Sebagai makna-mitis, larangan tersebut terkait dengan tatanan etika dalam tradisi patriarkal-India yang sebenarnya tidak menghendaki istri bekerja. Kalaupun bekerja, istri harus mendapatkan pekerjaan yang diyakini tidak melanggar norma-norma keperempuanan. Wartawan bagi seorang menantu perempuan dalam pandangan ayah mertua merupakan pekerjaan yang hanya akan mendatangkan rerasan negatif dari tetangga kanan-kiri karena harus bertemu dengan banyak lelaki dan melakukan wawancara di hotel. Stereotipisasi tersebut dibumbui dengan ketakutan ketika menantu perempuannya bertemu dengan lelaki yang sedang mabuk. Tentu saja, pekerjaan wartawan tidak harus berasosiasi dengan stereotipisasi-stereotipisasi tersebut, karena terdapat beragam mekanisme wawancara dengan narasumber lelaki. Dan, Priya juga tidak selamanya harus mewawancarai narasumber lelaki. Selain itu, pekerjaan wartawan dalam konteks masyarakat Amerika yang sangat sadar media, merupakan profesi yang sangat menjanjinkan karena semua orang membutuhkan informasi, dari gosip selebritas Hollywood hingga berita ekonomi dan politik. Namun, sebagai bentuk-mitis, kemungkinan-kemungkinan terkait prospek yang menjanjikan sebagai wartawan tidak lagi diperhitungnkan karena aturan-aturan normatif dalam tradisi patriarkal-India lebih di-nomor-satu-kan. Dengan demikian, unit naratif II merupakan submitos tentang kuasa mertua dan ketidakberdayaan menantu perempuan.

Awalnya, Priya menuruti perintah mertuanya untuk bekerja selain wartawan. Ia menjadi seorang resepsionis sebuah tabloid berita selebritas terkemuka, Hollywood Insider. Karena sebuah kebetulan yang indah—ia diminta menggantikan wawancara seorang wartawan dengan bintang film terkenal (Daswani, 2008: 117-119, Priya akhirnya mendapatkan promosi sebagai wartawan, bahkan mendapat prioritas khusus dari direkturnya. Kepada suami—Sanjay—dan mertuanya Priya tetap menyembunyikan profesi barunya tersebut. Namun, karena perselisihan dengan saudara iparnya, Malina, Priya, akhirnya harus berterus-terang terkait profesinya. Mertua lelakinya sangat terpukul.

III   “Masa-masa yang menyenangkan,” kataku, secara tidak langsung bahwa aku siap melepaskannya, meskipun sebenarnya tidak begitu. “Masa-masa itu sudah memberikan keuntungan kepadaku. Aku minta maaf karena tidak bilang kepada kalian. Kalian tidak akan pernah mengizinkanku melakukan pekerjaan itu, jadi aku diam saja. Tetapi seperti kalian lihat, pekerjaanku tidak pernah menganggu kehidupanku di sini. Aku menganggap diriku masih sebagai menantu perempuan seperti yang kalian inginkan.”

“Bagaimanapun juga, kau berbohong,” kata ayah mertuaku, meludahkan kata-kata itu seperti anak lima tahun di lapangan bermain sekolah. “Aku merasa seperti aku tidak mengenal dirimu.”

“Berapa gajimu?” tanya ibu mertuaku, akhirnya mengatakan sesuatu.

“Lima puluh lima ribu dolar,” aku memberitahu mereka…

“Wah wah! Dengan bintang-bintang film dan menghasilkan begitu banyak uang!” ibu mertuaku berkata, tiba-tiba tersenyum lebar dan tampak bersemangat. “Itu bayaran yang bagus sekali. Kita bisa memakainya. Malini masih harus dikawinkan. Dan, bagus sekali, kita bisa bilang pada teman-teman kita, Priya kita punya pekerjaan hebat, bukan penjaga toko yang membosankan seperti mereka,” tukasnya. “Seharusnya kau jangan bohong, tetapi kini itu suah terjadi, ya sudah. Bas, teruskan saja. Kami memaafkanmu…” (Daswani, 2008: 301-302)

Unit naratif III merupakan contoh bagaimana mitos-pertama dan mitos-kedua beroperasi. Sebagai tanda global, unit naratif III memiliki makna denotatif “ketidaksukaan ayah mertua terhadap pekerjaan menantu perempuan dan pemakluman ibu mertua terhadap pekerjaan menantu perempuan”. Sekali lagi, sebagai makna-mitis pandangan patriarkal terkait pekerjaan menantu perempuan dihadirkan melalui sikap tidak suka dari mertua, sampai-sampai ia harus mengatakan “Aku merasa seperti aku tidak mengenal dirimu”. Priya tetap diposisikan sebagai menantu yang harus mentaati kehendak mertua, termasuk dalam hal pekerjaan, tak peduli pekerjaannya sekarang memberikan ia banyak kebebasan di luar ranah domestik. Baginya, pekerjaan sebagai wartawan tetap tidak etis dan tidak sesuai dengan norma-norma perempuan/istri Hindu-India yang tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang dianggap melecehkan institusi keluarga inti.

Meskipun demikian, ibu mertua memiliki pandangan berbeda terkait pekerjaan Priya. Ia memang tetap menganggapnya sebagai kesalahan, tetapi bisa memaafkan karena pendapatan Priya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga, semisal untuk biaya pernikahan anak keduanya, Malina. Sebagai bentuk-mitis, realitas perbedaan pandangan antara ayah dan ibu mertua, tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemihakan yang dilakukan oleh ibu mertua kepada Priya. Pemaafan dan pemaklumannya, sekali lagi, lebih didasari pada realitas keuntungan yang bisa diambil oleh pihak mertua terkait pekerjaan yang dilakoni Priya. Melalui penandaan makna dan bentuk di atas, unit naratif III menghadirkan “kuasa ayah mertua dan permakluman ibu mertua terkait pekerjaan menantu perempuan”.

Penandaan mitis yang dibangun dari unit naratif III sebagai submitos atau mitos pertama, saya posisikan sekedar sebagai tanda—makna dan bentuk—dalam mitos-kedua. Dalam penandaan mitis “kuasa ayah mertua dan permakluman ibu mertua terkait pekerjaan menantu perempuan”, kita bisa melihat adanya sebuah subversi yang dilakukan oleh Daswani terkait pemaafan dan pemakluman ibu mertua terhadap pekerjaan Priya yang dianggap akan memberikan keuntungan finansial terhadap kehidupan keluarga inti. Artinya, dengan makna dan bentuk yang demikian, mitos-kedua yang dihadirkan oleh Daswani melalui unit naratif III adalah “ke-mertua-an dan kerakusan”. Dengan penandaan mitis kedua yang demikian, PDBH melakukan sebuah subversi terhadap kuasa tradisional keluarga Hindu-India yang menempatkan posisi menantu perempuan sebagai subordinat bagi suami dan mertuanya. Subversi naratif yang berlangsung bukan menghadirkan kekejaman mertua, tetapi pandangan dan perilaku mertua, khususnya ibu mertua, yang terus berusaha menguasai menantu perempuan atas nama tradisi. Namun, di balik kekuasaan mertua tersebut, ternyata mereka masih bisa memaafkan dan memaklumi ketika si menantu perempuan secara ekonomi menguntungkan. Dengan kata lain, di balik semua otoritas tradisional yang dipertahankan dalam tradisi patriarkal keluarga inti Hindu-India, terdapat sebuah motivasi ekonomi yang mengeksploitasi menantu perempuan.

Subversi yang dilakukan oleh Daswani dalam bentuk mitos-kedua, “ke-mertua-an dan kepentingan ekonomi”, tentu tidak bisa dilepaskan dari masuknya pemikiran-pemikiran Amerika yang menjadi medan kultural-ideologis bagi penulis diaspora. Bagaimanapun juga, melalui sosok Priya, penulis tidak bisa melepaskan begitu saja ketradisionalan keluarga, khususnya dalam memposisikan istri/menantu perempuan, yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Namun, pemikiran Amerika terkait kebebasan maupun persamaan jender juga ikut mempengaruhi pola pikir dan tindakan Priya sebagai subjek diasporik dalam narasi ini. Sebagai subjek yang harus beradaptasi dengan budaya dan masyarakat induk—Amerika Serikat, Priya berusaha memadukan dua kepentingan kultural, tanpa berusaha menggugurkan satu dan yang lainnya. Dalam kondisi demikian, ia akan membaca dan memaknai-kembali formasi tradisi dalam paradigma kontekstual. Priya tidak menegasikan pentingnya keluarga, meskipun pada bagian akhir, ia pergi dari rumah mertuanya dan kembali ke tanah air, India. Apa yang ia inginkan adalah hadirnya cara pandang baru terhadap keluarga Hindu-India yang juga memberikan keleluasaan istri/menantu perempuan untuk mengeksplorasi kemampuan nalarnya guna bekerja di luar rumah sesuai dengan keinginan. Ia juga tidak ingin dirinya hanya dieksploitasi secara ekonomi untuk kepentingan mertua dan keluarganya. Melalui narasi demikian, PDBH memainkan struktur naratif dengan memunculkan mitos-pertama dan mitos-kedua dalam jalinan sintaktik sederhana, tetapi penuh dengan kritik dan subversi terhadap kemapanan ideologi dan budaya patriarkal Hindu-India yang masih dipertahankan di negara Barat. Ke-India-an memang sah-sah saja untuk dipertahankan dalam kehidupan sekuler masyarakat Amerika, karena bagaimanapun juga, ia sudah menjadi identitas kolektif bagi masyarakat India. Namun, dalam tataran ideal, ke-India-an tersebut tidak harus dilakukan secara kaku, membabi-buta, dan menindas, karena konteks-konteks kehidupan masyarakat India diaspora bukanlah ruang geo-kultural yang beku dan terisolasi dari bermbagai macam pengaruh ideologis. Analisis mitos-pertama dan mitos-kedua, dengan demikian, memungkinkan kita untuk membuka apa-apa yang tampak dimapankan dalam penandaan naratif, sekaligus menunjukkan subversinya.

Simpulan

Saya sangat sadar sepenuhnya bahwa paparan-paparan di atas—baik yang bersifat metodologis maupun contoh analisis—bersifat konstruksionis. Artinya, saya selaku pengkaji menempatkan diri berdasarkan kerangka teoretis tertentu berusaha membuka, menelaah, dan mengkritisi teks-teks linguistik maupun sastra yang di dalamnya banyak memobilisasi dan menaturalisasi kepentingan ideologis. Namun, paparan-paparan tersebut masih bersifat seminal—bisa diperdebatkan lagi—karena memungkinkan munculnya kritik ataupun model analisis baru dengan kerangka teoretis yang sama. Paling tidak, saya sudah berusaha, berdasarkan bacaan dan cara baca konstruksionis, untuk menunjukkan bahwa produk kebahasaan maupun kesastraan bukanlah realitas netral yang sekedar menghadirkan unit-unit penuh makna denotatif ataupun merefleksikan kemanusiaan di muka bumi. Produk kebahasaan dan kesastraan, apapun bentuknya, adalah sebuah hasil kreasi manusia yang tidak pernah berada dalam “ruang kosong” ataupun “ruang beku”, yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Kreator produk kebahasaan maupun kesastraan merupakan subjek yang hidup, berpikir, berimajinasi, dan berkreasi dalam sebuah ruang geo-kultural yang menjadi medan pertarungan ataupun pertemuan bermacam kepentingan. Dalam kondisi demikian, mereka akan terhubung ataupun terikat dengan kontek-konteks tersebut. Artinya, apapun hasil kreasi mereka, pengaruh-pengaruh kontekstual akan menjadi bahan yang cukup ‘renyah’ dan ‘gurih’ untuk diolah kembali dalam produk-produk kebahasaan dan kesastraan yang bisa saja bersepakat, menolak, ataupun berkompromi dengan syarat-syarat tertentu terhadap konteks-konteks tersebut.

Daftar Pustaka

Aschroft, Bill. 2001. Post-colonial Future: Transformation of Postcolonial Culture. London: Continuum.

Anas, Abdulla Azwar. 2012. Pidato dalam Pembukan BEC 2, 18 November 2012.

Barthes, Roland.1983. Mythologies. New York: Hill and Wang.

Canclini, Néstor Garcia. 1995. Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity (Terj. Inggris Christopher L. Chiappari & Silvia L. López). Minneapolis: University of Minnesota Press.

Comaroff, John L. & Jean Comaroff. 2009. Ethnicity Inc. Chicago: The University of Chicago Press.

Daswani, Kavita. 2008. Pengantin Dusun di Berverly Hills (Terj. Gita Yuliani). Jakarta: Gramedia.

Harvey, David. 2007. A Brief History of Neoliberalism. New York: Oxford University Press.

McGuigan, Jim. 1999. Modernity and Postmodern Culture. London: Sage Publications.

Král, Françoise. 2009. Critical Identities in Contemporary Anglophone Diasporic Literature. London: Palgrave MacMillan.

Subaharianto, Andang & Ikwan Setiawan. Menjadi Sang Hibrid: Hibriditas Budaya dalam Masyarakat Lokal. Laporan Penelitian Hibah Fundamental Tahun II. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.

Sunardi, ST.2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik.

Sutarto. 2009. Kamus Budaya dan Religi Using. Jember: Kompyawisda.

Turner, Rachel. S. 2008. Neo-Liberal Ideology: History, Concepts and Policies. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Catatan akhir

[1] Safran (dikutip dalam Françoise Král, 2009: 13) menjelaskan bahwa konsep diaspora bisa diterapkan kepada komunitas minoritas ekspatriat yang memiliki beberapa karakteristik berikut: (1) mereka, atau nenek-moyang mereka, berasal dari sebuah ‘pusat’ asal spesifik menuju dua atau lebih wilayah asing; (2) mereka mempertahankan memori, mitos, atau pandangan kolektif tentang tanah air—lokasi, sejarah, dan capaian-capaiannya; (3) mereka meyakini bahwa mereka tidak bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat induk sehingga merasa sebagian terasing dan terisolasi darinya; (4) mereka menghormati tanah air moyang sebagai rumah dan tempat ideal ke mana mereka atau keturunan mereka akan (atau seharusnya) kembali pada akhirnya—ketika kondisi memungkinkan; (5) mereka meyakini bahwa mereka harus secara kolektif berkomitmen kepada keberlangsungan atau restorasi tanah air mereka, untuk keamanan dan kemakmuran; dan (6) mereka terus menghubungkan diri dengan tanah air sehingga kesadaran dan solidaritas etnokomunal didefinisikan oleh hubungan itu.