Skip to toolbar

MENONTON MADONNA MENGENANG WALJINAH: Hegemoni Kesenian Global dan Lahirnya Kesenian-kesenian Glokal

Ikwan Setiawan

Fakultas Sastra Universitas Jember

Waktu perubahan adalah juga waktu keraguan. Kata kehilangan makna familiarnya. Dan langkah kaki kita tidak lagi pasti di atas apa-apa yang sebelumnya merupakan medan yang cukup familiar bagi kita.

 

-John Ruggie[1]

 

 

 

Awalan: latar-latar perkembangan

Globalisasi, tak ayal lagi, telah menjadi realitas paling hangat dan sering mengisi perdebatan-perdebatan akademis. Dari sekian perdebatan yang terjadi mengemuka, globalisasi sebagai sebuah kajian ilmiah dalam ilmu sosial sebenarnya menempati posisi akademis yang cukup menarik karena langsung berkaitan dengan realitas kehidupan yang berlangsung saat ini. Beragam pendapat dan pemikiran muncul dan berkembang mengisi buku-buku dan simposium internasional.

Secara teoritis memang belum ditemukan satu kesepakatan di antara para pemikir sosial tentang definisi globalisasi. Hal itulah yang menimbulkan perbedaan pandangan, apakah globalisasi hanya sebuah “fenomena” ataukah bisa dibahas “secara teoritis”. Berkaitan dengan hal itu, perlu kiranya disimak pendapat Giovanni E. Reyes berikut:

Sebagai sebuah fenomena, globalisasi mengimplikasikan bahwa ketergantungan yang sangat kuat tengah berlangsung diantara wilayah-wilayah dan negara-negara di dunia, terutama dalam hal keuangan, perdagangan, dan komunikasi. Sebagai sebuah teori perkembangan ekomoni, salah satu asumsi dasarnya adalah sebuah level integrasi yang lebih besar berlangsung di antara wilayah-wilayah dunia yang berbeda. Dimana integrasi ini menyebabkan pengaruh yang cukup penting dalam pertumbuhan ekonomi dan indikator-indikator sosial.[2]

Merujuk pada pendapat Reyes tersebut, bisa dikatakan bahwa globalisasi awalnya memang sebuah fenomena, namun pada akhirnya bisa dikaji secara teoritis. Adapun elemen penting dari globalisasi adalah keuangan-perdagangan dan komunikasi yang mempunyai pengaruh penting dalam indikator-indikator sosial pada semua negara di dunia yang terhubung dalam sistem global.

Mengikuti logika berpikir di atas, paling tidak terdapat tiga kutub pemikiran dalam setiap perdebatan yang sering hadir dalam wacana-wacana akademis. Pertama, kutub pemikiran yang menganggap globalisasi sebagai proses yang berdimensi ekonomi. Kedua, kutub pemikiran yang mengasumsikan globalisasi sebagai proses politik. Ketiga, kutub pemikiran yang meyakini globalisasi sebagai sebuah proses kultural.

Globalisasi sebagai proses ekonomi. Para pemikir dalam kutub ini meyakini bahwa globalisasi pada dasarnya merupakan sebuah proses meningkatnya keterkaitan ekonomi nasional melalui perdagangan, aliran modal, dan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), sehingga kegiatan ekonomi yang ekspansif diidentifikasi sebagai aspek dan mesin utama di balik berlangsung globalisasi.[3] Sebagai proses ekonomi, globalisasi telah membuka kontestasi perdagangan antarnegara di dunia. Para pembela globalisasi ekonomi, menganggap pasar global dewasa ini semakin memberikan peluang bagi tiap-tiap negara untuk menawarkan jasa dan produk industri kepada negara-negara lain dalam iklim perdagangan yang dianggap lebih demokratis. Namun, dalam realitasnya, yang kemudian banyak mengekspansi pasar adalah kelompok perusahan transnasional yang dikuasai oleh pemilik modal besar dari negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, maupun China. Konsekuensinya adalah membanjirnya produk-produk industri perusahaan transnasional negara-negara maju ke negara-negara berkembang. Bahkan perusahaan-perusahaan tersebut mampu mendirikan perusahaan atau menginvestasikan modalnya di negara-negara berkembang. Kondisi inilah yang kemudian dianggap melahirkan neokolonialisme dalam semangat neoliberalisme yang sebenarnya lebih menguntungkan negara-negara maju.

Keberadaan otoritas lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF (International Monetery Fund), World Bank, maupun ADB (Asian Development Bank), semakin memperkokoh lalu lintas ekonomi dunia yang cenderung menjerat negara-negara berkembang dengan hutang-hutang global. Di samping itu, institusi-institusi perdagangan internasional di bawah bendera United of Nations, seperti WTO (World Trade Organization), semakin memperkukuh eksistensi perdagangan global atas nama pasar terbuka dan bebas yang diintrodusir mampu meningkatkan demokratisasi perdagangan.

Globalisasi sebagai proses politik. Pada dasarnya, kutub pemikiran ini lahir dari pembacaan terhadap pengaruh globalisasi ekonomi/ekspansi pasar terhadap kondisi negara bangsa. Ada beberapa pemikiran yang berangkat dari asumsi dasar tersebut. Pertama, bahwa kekuatan politik pemerintah sebuah negara bangsa menjadi tidak berdaya menghadapi logika-logika technocapitalism[4]. Pandangan ini menganggap bahwa kombinasi antara kepentingan ekonomi dan inovasi teknologilah (semisal internet) yang mengantarkan fase baru sejarah dunia di mana peran pemerintah akan tereduksi menjadi kaki tangan-kaki tangan kapitalisme global[5]. Konsekuensi dari realitas ini adalah kinerja pasar kapital globallah yang lebih berperan dalam mengendalikan ekonomi suatu negara. Kedua, ekspansi pasar perusahaan transnasional tidak sepenuhnya meruntuhkan peran politik pemerintah sebuah negara.[6] Artinya, memang ada pengaruh ekspansi pasar terhadap eksistensi lalu lintas ekonomi antarnegara yang lebih teknologis sifatnya, lebih cepat dan praktis. Namun, peran politik negara tetap menjadi faktor signifikan sehingga keputusan-keputusan politiklah yang sebenarnya membuka jalan bagi masuknya ekspansi ekonomi transnasional.

Globalisasi sebagai proses kultural. Asumsi dasar dari kutub pemikiran ini adalah bahwa berlangsungnya globalisasi akan membawa dampak pada perubahan budaya dunia kontemporer. Tomlinson menyatakan bahwa globalisasi kultural sebagai “semakin meningkatnya jaringan kesalingterkaitan dan interdependensi kultural yang kompleks yang menjadi ciri kehidupan manusia modern.”[7] Ironisnya, saat ini kita melihat sebuah realitas betapa globalisasi kultural sebenarnya lebih banyak dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan multimedia internasional yang banyak memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi massa untuk memasarkan produk-produk industri budayanya melamapuai batas-batas negara dan kebudayaan. Citra-citra budaya yang dibentuk oleh produk-produk tersebut—semisal tayangan televisi maupun film—pada akhirnya akan mempengaruhi kultur bangsa lain. Inilah yang kemudian akan melahirkan satu kondisi di mana identitas kultural sebuah bangsa tidak sepenuhnya berlandaskan pada lokalitas, namun juga merefleksikan kecepatan perubahan budaya global.

Dalam kontkes itulah, globalisasi diklaim sebagai penyebab lahirnya bentuk budaya dunia yang serba homogen karena digerakkan oleh satu poros kultural, yakni Amerika. Barbar merefleksikan kondisi itu sebagai berikut:

Globalisasi—yang disebarluaskan oleh teknologi yang mampu mentransfer barang dan informasi dengan kecepatan tinggi dan efektif—cenderung mengarah pada McWorld yang serba homogen dimana semua perbedaan bahasa dan budaya yang ada sebelumnya berangsur menghilang dan menjelma budaya konsumsi global dengan lingua franca Bahasa Inggris dan aktivitas utama kulturalnya berupa perdagangan.[8]

Pembacaan yang dilakukan Barbar memang sangat relevan ketika kita melihat perkembangan perdagangan produk-produk budaya yang sebagian besar berasal dari Amerika, mulai dari film hingga boneka barbie. Saat ini di semua belahan negara produk-produk budaya Amerika sangat mudah ditemukan karena mereka mampu bermain dalam regulasi-regulasi perdagangan dunia yang cukup berpihak kepada kepentingan kapital. Namun, sebenarnya bukan hanya Amerika yang kini menggerakkan perdagangan budaya dunia, tetapi juga Eropa, Jepang, Amerika Latin, India, maupun China. Bagi negara-negara tersebut ekonomi tidak harus dipisahkan dari budaya, karena budaya juga bisa menjadi alat akumulasi modal yang cukup efektif karena langsung bersentuhan dengan kebutuhan estetik manusia secara universal.

Sebaliknya, ada juga para pemikir yang menganggap bahwa akan muncul variasi budaya lokal sebagai akibat kuatnya budaya global. Robertson, misalnya, meramalkan lahirnya pluralitas dunia ketika kekuatan kultur lokal melakukan tanggapan kultural yang unik terhadap kekuatan-kekuatan budaya global. Akibatnya bukanlah homogenisasi kultural, tetapi glokalisasi, yakni sebuah interaksi yang kompleks antara kultur global dan lokal yang bercirikan peminjaman budaya (cultural borrowing) sehingga menghasilkan budaya baru yang bersifat hibrid serta direfleksikan dalam film, musik, fashion, bahasa, dan bentuk-bentuk eskpresi simbolik lainnya.[9]

Dari paparan di atas, bisa ditarik satu definisi sederhana tentang globalisasi dari perspektif kultural. Globalisasi bisa didefinisikan sebagai sebuah proses di mana terjadi kesalingterkaitan dan kesalinghubungan negara-negara dalam proses ekonomi-politik dan kultural serta ditunjang oleh eksistensi insitusi-institusi internasional dan teknologi komunikasi massa-global yang kemudian melahirkan perubahan dalam bentuk sosio-kultural sebagai hasil dari proses adaptasi dan hibridasi.

Dari kerangka konseptual itulah, tulisan ini akan dikembangkan. Dengan melihat globalisasi sebagai sebuah proses kultural yang tidak bisa ditolak oleh semua negara di dunia, termasuk Indonesia, penulis ingin membaca dan mendiskusikan secara kritis pengaruh masuknya kesenian-kesenian global terhadap eksistensi kesenian lokal-tradisional Indonesia dan lahirnya kesenian-kesenian glokal.

 

“Culture Industries” dan globalisasi kultural: menjadi hegemoni?

Secara konseptual terma industri budaya (culture industries) pertama kali dicetuskan oleh dua pemikir kritis Mazhab Frankfurt, Theodor Adorno dan Max Horkheimer. Mereka, dalam pengasingannya ke Amerika karena berkuasanya Nazi di Jerman, melahirkan banyak kritik berkaitan dengan perkembangan budaya massa—yang mereka istilahkan sebagai industri budaya—terutama musik, film, televisi, radio, dan media massa. Mereka menganggap bahwa industri budaya semata-mata hanya menjadi kepentingan kapitalisme pasar sehingga format yang ditampilkan sangat homogen dan standard. Lebih jauh mereka mengatakatan:

Film, radio, dan majalah membentuk sebuah sistem yang seragam dalam keseluruhan maupun tiap-tiap bagiannya. Bahkan aktivitas-aktivitas estetik dalam oposisi-oposisi politis dengan begitu antusias menuruti ritme sistem baja ini…….Beberapa pihak yang berkepentingan menjelaskan industri budaya dalam terma teknologi. Dikatakan bahwa karena jutaan orang terlibat di dalamnya, proses reproduksi tertentu menjadi penting sehingga kebutuhan-kebutuhan identik yang diminta dari berbagai tempat harus dipenuhi dengan produk yang serupa pula. Kesenjangan teknis antara sedikitnya pusat produksi dan meluasnya titik-titik konsumsi diklaim membutuhkan pengorganisasian dan perencanaan oleh pihak manajemen. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa standar didasarkan sepenuhnya pada kebutuhan konsumen sehingga alasan tersebut bisa diterima. Sebagai akibatnya adalah munculnya lingkaran manipulasi dan kebutuhan retroaktif di mana penyatuan sistem tumbuh lebih cepat.[10]

Dari paparan Adorno dan Horkheimer, kita bisa mengetahui betapa industri budaya telah melahirkan produk film, acara radio dan televisi, informasi di media cetak yang serba homogen dan standard atas nama kepentingan massa yang membutuhkan hiburan di sela-sela kesibukannya bekerja. Alih-alih sebagai hiburan, industri budaya telah menjelma sebagai kebutuhan palsu (fake needs) yang mereduksi kemampuan individual manusia sekedar sebagai “penikmat yang pasif”.

Dalam era kapitalistik ini industri budaya semakin mengalami perkembangan dan menjadi entitas yang cukup penting bagi perkembangan kapitalisme lanjut (advanced capitalism) dengan moda konsumsinya. Industri budaya kemudian didefinisikan sebagai:

(a) institusi-institusi dalam masyarakat yang mengola mode khusus produksi dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai satu komoditas.[11]

(b) perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan dengan cara memproduksi produk budaya yang ditujukan untuk distribusi secara nasional (atau bahkan internasional). Industri budaya dengan demikian melibatkan ‘sistem industri budaya’ (the cultural industry system) yang di dalamnya terdapat keseluruhan organisasi yang terlibat dalam proses penyaringan produk-produk dan ide-ide baru yang berasal dari personel kreatif yang berada dalam level subsistem.[12]

Merujuk dari dua pengertian di atas—dan juga dipadukan dengan pemikiran kritis Adorno dan Horkheimer—ideologi industri budaya bagaimanapun adalah alat kapitalisme untuk terus memperoleh keuntungan dengan melakukan ekspansi pasar melalui usaha-usaha distribusi dalam skala nasional maupun internasional. Jangkauan pasar (market share) industri budaya ke dalam skala internasional menjadi terbuka ketika teknologi transportasi dan komunikasi massa semakin berkembang dan pada akhirnya melahirkan konsep globalisasi. Jadi, berlangsungnya globalisasi semakin mempercepat ekspansi ekonomi kapitalis sekaligus mendorongnya aliran produk-produk budaya dari perusahaan-perusahaan besar di Amerika maupun Eropa—yang juga diikuti Korea, Jepang, Hongkong, maupun India—ke negara-negara berkembang (developed countries), termasuk Indonesia.

Kondisi itulah yang kemudian disebut dengan grobalisasi. Dalam pandangan Ritzer, grobalisasi merupakan pandangan yang sangat modern yang menekankan kemampuan yang semakin meningkat di seluruh dunia dari organisasi-organisasi dan negara-negara modern yang sebagian besar bersifat kapitalistik untuk meningkatkan kekuasaan mereka dan menjangkau dunia.[13] Lebih jauh Ritzer menambahkan:

Salah satu dari kekuatan-kekuatan pendorong utama di belakang grobalisasi adalah kebutuhan perusahaan untuk memperlihatkan kemampuannya memperoleh keuntungan yang semakin meningkat melalui imperialisme yang semakin lama semakin jauh dari jangkauan. Kekuatan lainnya adalah kebutuhan bagi perusahaan-perusahaan, dan negara-negara serta institusi-institusi (seperti media dan pendidikan) yang menopang mereka guna memperoleh keuntungan dengan cara meningkatkan hegemoni budaya mereka di seluruh dunia.[14]

Produk-produk budaya global dari hari ke hari semakin membanjiri kehidupan budaya bangsa ini. Dari musik, film, majalah hingga makanan cepat saji (fast food) semakin gampang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Perkembangan itu didukung oleh agressivitas perusahan-perusahan multimedia transnasional untuk membangun jaringan-jaringannya di tingkatan lokal Indonesia. MTV, misalnya, saat ini sudah membuat program MTV Indonesia yang beroperasi di Indonesia. Kehadiran MTV Indonesia, di satu sisi, memang mampu mengangkat pamor musik modern Indonesia, namun di sisi lain juga semakin memperkuat pernyebaran musik-musik barat di kalangan muda Indonesia. Madonna, Britney Spears, Christina Aguelira, Westlife, Boyzone, N Sync, Backstreet Boys, Limbizkit, Linking Park, Eminem, Destiny Child, dan masih banyak lagi, merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar musik di Indonesia.

Hal serupa juga terjadi di dunia film. Film-film terbaru produksi Hollywood membanjiri bioskop-bioskop dan toko-toko VCD/DVD. Generasi muda bangsa ini pun sangat familiar dengan nama Tom Cruise, Angelina Jolie, Brat Pritt, Tom Hank, Nicholas Cage, Kate Winslet, Densel Washington, Demi Moore, Leonardo de Caprio, Bruce Willis, Elijah Wood, dan lain-lain. Harry Porter, Lord of The Ring, Titanic, Romeo&Juliette, Tomb Rider, maupun Charlie Angels, seperti sudah menjadi film-film wajib yang mengisi ruang-ruang imajiner generasi muda kita.

Kesenian-kesenian yang berasal dari Amerika dan Eropa menjelma menjadi idola-idola baru (new idols) dimana para generasi muda bisa menemukan relasi imajiner ideologis[15] identitas dirinya melalui identifikasi diri dengan kultur yang diusung para idola tersebut. Tanpa disadari para generasi muda telah menjadi subjek-subjek yang di-subjek-kan ke dalam praktik material ideologi. Sangat biasa kemudian kalau di mall-mall kita menemukan segerombolan anak muda yang mengenakan gaya pakaian para artis idola dan juga gaya hidup yang sudah sangat “ter-barat-kan” (westerned).[16] Mereka yang secara geografis dan budaya lahir di bumi Indonesia dengan tradisi ketimurannya, tengah berada dalam proses menjadi barat (being westerned). Dengan kata lain, produk-produk industri budaya barat telah menghadirkan gaya hidup baru generasi muda Indonesia, berupa pemujaan terhadap nilai-nilai barat, meskipun mereka juga tidak bisa lepas sepenuhnya dari kultur Indonesia. Inilah realitas kultur yang tengah berlangsung saat ini.

Dalam kondisi itulah kita bisa menemukan signifikansi pemikiran Michel Foucault tentang wacana (discourse)[17], pengetahuan (knowledge), dan kekuasaan (power). Sebuah wacana tentang “sesuatu” yang dipraktikkan dalam fomasi diskursif (discursive formation)[18] secara terus-menerus dan didukung tindakan-tindakan diskursif melalui aparat-aparat institusional (institutional apparatus) akan membentuk sebuah pengetahuan yang disepakati bersama. Pengetahuan inilah yang kemudian menghadirkan sebuah relasi kuasa yang tanpa disadari oleh individu-individu dalam masyarakat.

Dalam konteks tersebut, saat ini sebenarnya tengah berlangsung sebuah relasi kuasa yang dibangun oleh industri budaya global terhadap perilaku dan kebiasaan kultural bangsa ini, terutama generasi mudanya. Industri budaya global dengan produk-produknya tengah mengusung sebuah wacana “pembebasan diri dalam gemerlap kesenian industri”. Kesenian industri dikonstruksikan sebagai produk estetik penuh warna dan dinamis dimana generasi muda bisa menemukan identifikasi diri mereka di dalamnya dalam keceriaan hidup. Wacana tersebut dipraktikkan melalui tayangan-tayangan televisi dan radio maupun berita di majalah-majalah remaja dan media massa cetak lainnya sehingga nilai-nilai industri budaya benar-benar menjadi pengetahuan yang dianggap sebagai kebenaran dan sah untuk diikuti.

Di samping menjamurnya kesenian industrial barat, di Indonesia saat ini kita juga menyaksikan pertumbuhan kesenian industri yang serupa tapi tak sama dengan yang berasal dari barat. Band-band besar ibukota hampir semuanya mengeluarkan album dengan jenre musik yang tidak jauh dari musik barat. Beragam jenre musik barat bisa kita temukan saat ini dalam musik Indonesia, mulai dari rock, punk, hip-hop, pop alternatif, reggae, hingga house music. Bisa dikatakan tidak ada beda antara musik industri barat dan Indonesia, kecuali liriknya yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Realitas tersebut bisa dikatakan sebagai proses hegemoni kultural dari budaya barat dalam kehidupan kultural bangsa ini. Pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni ideologis perlu kiranya digunakan untuk membaca realitas tersebut. Gramsci mengemukakan bahwa untuk mencapai satu kuasa hegemoni dalam tataran kultural-ideologis “sebuah kelompok kuasa selalu berusaha untuk menjustifikasi kekuasaan, kekayaan, dan statusnya secara ideologis, dengan tujuan untuk mengamankan penerimaan rakyat kebanyakan terhadap kekuasaan dominannya sebagai sesuatu yang alamiah, bagian dari aturan sosial yang sulit untuk diubah.”[19] Untuk memenuhi kondisi tersebut, sebuah kelompok kuasa akan mengakomodasi dan memasukkan kepentingan dari kelas subordinat ke dalam kepentingan kelasnya untuk kemudian mengartikulasikannya lewat benda-benda dan praktik budaya sehingga kelas subordinat merasa bahwa mereka juga mendapat keuntungan dengan berpartisipasi dalam struktur hegemonik tersebut. Inilah yang oleh Chantal Mouffe sebagai “sintesa-sintesa yang lebih tinggi sehingga semua elemen berfusi dalam ‘keinginan kolektif’ yang menjadi protagonis baru dari tindakan politis—tentu dalam lingkup kultural-ideologis, pen—selama berlangsungnya hegemoni.”[20] Dengan menggunakan aparatus hegemonik—seperti media, seperti televisi, radio, maupun media cetak—kelas kuasa semakin mempertegas kuasanya dalam masyarakat.

Tanpa disadari, kehidupan kultural bangsa ini tengah berada dalam proses transisional. Secara gradual, kesadaran kultural generasi muda—kelas subordinat—tengah dibimbing untuk mengikuti ideologi dari kultur barat yang terepresentasikan dalam beragam kesenian industri. Kecerdikan dari kesenian industri barat—dan juga kesenian industri Indonesia yang meniru barat—adalah bagaimana meramu kebaruan (novelty) estetika yang dikonsepsikan dekat dengan kebutuhan ekspresi generasi muda pada masa-masa transisi. Akibatnya generasi muda secara tidak sadar tengah mengikuti ritme hingar-bingar kesenian industri yang dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan ekspresif. Yang diuntungkan tetaplah para pemilik modal—sebagai kelas dominan—yang menggerakkan industri kesenian, baik yang berbasis di Amerika dan Eropa ataupun yang sudah mendirikan perusahaan di Indonesia.[21] Di samping itu, aparat negara yang berkepentingan dengan pengembangan industri juga mendapatkan keuntungan finansial berupa pajak sehingga mereka sangat terbuka bagi masuknya produk industri budaya ke dalam kehidupan kultural bangsa ini.

Kesenian tradisi-lokal dalam globalisasi: lahirnya kesenian-kesenian glokal

Ketika kehidupan kultural sudah dihegemoni oleh membanjirnya produk-produk industri global, pertanyaannya kemudian adalah masih adakah celah bagi kesenian tradisi-lokal untuk berkembang dan berkontestasi dalam kehidupan kultural bangsa ini?

Diakui atau tidak, produk-produk kesenian global telah menjadi warna yang sudah sangat biasa dalam kehidupan kultural masyarakat kita, terutama di kota-kota besar. Masuknya produk-produk global ke dalam masyarakat lokal sebuah negara pada tataran lanjut dianggap menghasilkan apa yang kemudian disebut glokalisasi. Sebagaimana dijelaskan pada subbahasan sebelumnya glokalisasi merupakan sebuah interaksi yang kompleks antara kultur global dan lokal yang bercirikan peminjaman budaya (cultural borrowing) sehingga menghasilkan budaya baru yang bersifat hibrid serta direfleksikan dalam film, musik, fashion, bahasa, dan bentuk-bentuk eskpresi simbolik lainnya. Dalam konteks budaya Indonesia saat ini kita bisa menemukan produk-produk glokalisasi dalam musik-musik industri yang diusung band-band Jakarta. Para musisi Jakarta itu, secara konseptual banyak meniru jenre musik dari barat untuk kemudian diolah ke dalam musik berbahasa Indonesia, sehingga seperti asli Indonesia. Hal serupa juga bisa dijumpai dalam acara-acara televisi Indonesia. Sinetron, misalnya, merupakan peniruan acara opera sabun (soap opera) dari Amerika serta telenovela dari negara-negara Amerika Latin.

Kesenian industri Indonesia saat ini harus diakui mengalami perkembangan yag cukup pesat, dan mampu menjadi salah satu ikon di negeri sendiri, meskipun dalam banyak hal sudah kehilangan karakteristik budaya bangsa. Namun sangat disayangkan bahwa produk-produk kesenian glokal Indonesia masih belum mampu berkontestasi dalam grobalisasi sehingga hanya menjadi ikon di negeri sendiri. Para kreator seni industri Indonesia rupa-rupanya belum mampu berkreasi seperti para seniman musik dan film India yang mampu mengekspor karya-karya mereka ke mancanegara, termasuk ke Eropa dan Asia.

Kenyataan semakin berkembangnya kesenian industri—baik yang berasal dari barat maupun hasil produk dalam negeri—ke tengah-tengah masyarakat, terutama generasi muda, cepat atau lambat semakin meminggirkan beragam kesenian tradisi-lokal yang berbasis di masyarakat-masyarakat lokal. Hal itu didukung dengan tayangan-tayangan televisi nasional yang kurang—atau bahkan tidak—memberikan ruang bagi tayangan-tayangan kesenian tradisi lokal Indonesia.[22] Sangat wajar kiranya kalau generasi muda lebih menyukai dunia gemerlap kesenian industri daripada harus berlama-lama menonton ketoprak atau wayang wong. Kondisi inilah yang semakin mengasingkan kesenian tradisi-lokal—yang pada zaman dulu menjadi idola—dari ketertarikan generasi muda Indonesia sehingga mereka saat ini sudah semakin jarang melihat pertunjukan kesenian tradisi-lokal apalagi ikut berpartisipasi untuk mengembangkannya. Tentu saja kenyataan itu menjadi paradoks bagi bangsa yang dulu dikenal dengan keragaman budayannya ini.

Di tengah-tengah keterpurukan tersebut, beberapa seniman tradisi-lokal melakukan pembacaan dan pemaknaan terhadap derasnya arus kesenian industri ke dalam kehidupan masyarakat. Tak urung lagi, seniman-seniman tersebut berusaha menjadikan kesenian berbasis tradisi lokal sebagai bagian dari kesenian industri. Artinya mereka melakukan adaptasi-adaptasi budaya dengan menggabungkan beberapa elemen dari kesenian tradisi-lokal dengan kesenian industri berbasis modernitas sehingga menghasilkan kesenian yang berkarakter hibrid. Dan sebagian besar kesenian hibrid tersebut berwujud seni musik sehingga melahirkan apa yang kemudian dinamakan dengan seni tradisi populer.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, misalnya, kita bisa menemukan jenis musik campursari yang menggabungkan alat musik Jawa—seperti kendang, gamelan, dan rebab—dengan alat musik industrial—seperti keyboard, gitar, bass, dan drum—dengan lirik-lirik lagu berbahasa Jawa. Dengan sentuhan modernitas tersebut, ternyata campursari menjadi sangat populer di tengah-tengah masyarakat Jawa—dari Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Beberapa penyanyi yang menjadi bintang dari jenis musik baru ini antara lain Manthous, Didi Kempot, Cak Dikin, dan Sonny Joss.

Campursari bisa dianggap sebagai varian budaya Jawa yang berusaha dinegosiasikan dengan arus mainstream kebudayaan yang banyak didominasi oleh produk-produk industri budaya dalam sebuah sistem kapitalis lanjut saat ini. Akibatnya, kebudayaan Jawa yang dikatakan adiluhung ‘dicampuradukkan’ dengan ‘kultur rakyat kebanyakan’ dan kultur modernitas sehingga mudah diterima oleh masyarakat Jawa dari kelas menengah ke bawah. Tentang hal ini Budi Setiono menjelaskan:

Campursari merupakan salah satu kebudayaan populer di Jawa masa kini yang lahir dari persilangan antara sisa-sisa tradisi lama, sistem ekonomi pasar yang komersial dan kapitalistik serta ambisi-ambisi mobilitas sosial kelas menengah baru dalam struktur sosial kontemporer. Unsur-unsur tradisi Jawa lama yang sakral dan diagungkan dibungkus dalam kemasan-kemasan instan dan cita rasa baru untuk memperoleh keuntungan ekonomis serta simbol-simbol derajat sosial tinggi, yang sekaligus di dalamnya melibatkan instrikasi ideologi yang rumit, tidak konsisten dan terpotong-potong.[23]

Tampilan campursari yang memasukkan unsur-unsur tradisi Jawa secara ‘kasar’ dan unsur-unsur seni industri bisa merupakan strategi dari para seniman-seniman lokal untuk ikut berkontestasi dari pertarungan budaya yang terjadi dalam masyarakat. Terlepas dari kesan lirik-lirik yang agak kasar maupun campuraduk musiknya—yang dianggap melecehkan tradisi adiluhung Jawa, campursari terbukti mampu bertahan sebagai budaya glokal yang, minimal, mampu tetap mempertahankan karakteristik rakyat Jawa kebanyakan di tengah-tengah perkembangan budaya saat ini.

Realitas serupa juga terjadi di wilayah-wilayah Indonesia yang lain. Di Jawa Barat, lagu-lagu pop berbahasa Sunda menjadi komoditas industri budaya yang tetap bisa bertahan hingga saat ini. Di Minangkabau lagu-lagu dangdut berlirik bahasa Minang menjadi kegemaran masyarakat. Demikian halnya di Banyuwangi Jawa Timur, musik kendang kempul dinyanyikan penyanyi-penyanyi muda yang mampu menjadi kesenian populer dan sangat digemari oleh masyarakat.[24] Tentu saja karya-karya glokal tersebut merupakan hasil pembacaan terhadap perkembangan produk-produk budaya global yang masuk ke Indonesia.

 

Bisakah kesenian tradisi-lokal dan glokal diglobalkan?

Beberapa efek positif yang cukup potensial dari globalisasi adalah meningkatnya akses terhadap pendidikan bagi individu-individu serta kesempatan bagi indidvidu-individu dan kelompok-kelompok oposisional untuk berpastisipasi dalam budaya dan politik global dengan cara memperoleh akses ke jaringan komunikasi dan media global serta dengan mensirkulasikan perjuangan-perjuangan lokal dan ide-ide oposisional melalui media-media tersebut. Inilah yang kemudian disebut globalisasi dari bawah. Douglas Kellner[25]

 

Pernyataan Kellner di atas mungkin merupakan representasi dari kelompok pemikir yang masih menganggap adanya celah dalam globalisasi serta adanya kesempatan bagi kelompok-kelompok lokal yang selama ini diasumsikan kalah dalam persaingan budaya global. Bagi para pemikir apatis—atau bahkan nihilis—pendapat tersebut mungkin dianggap terlalu optimis karena pada dasarnya jaringan media dan komunikasi global sebenarnya sudah dikuasai oleh para pemilik modal raksasa (huge capital) dari negara-negara maju sehingga hanya produk-produk budaya menguntungkan.

Mungkin, kita tidak seharusnya terlalu pesimis atau nihilis dalam memandang perkembangan globalisasi. India telah memberikan contoh yang sangat baik, bagaimana menjaga tradisi-lokal dan menciptakan produk-produk industri budaya bernuasan lokal yang bisa disebarluaskan ke belahan dunia lainnya. Kesenian tradisi-lokal Indonesia, mungkin sangat sulit untuk bisa disebarluaskan secara utuh ke dalam konteks budaya global. Mungkin akan lebih baik kesenian tradisi-lokal tetap diusahakan bertahan sebagai atraksi kultural yang berlangsung di tanah sendiri sehingga tidak akan kehilangan auranya. Mungkin kita hanya perlu mempromosikannya dalam komunikasi global sehingga para turis akan tertarik untuk datang dan menyaksikannya di Indonesia.

Dengan menyerap unsur-unsur tradisi ke dalam produk-produk industri budaya mungkin keragaman budaya bangsa ini bisa lebih dikenal oleh bangsa lain. Garin Nugroho, dengan film-film berlatar kultur Indonesia telah memberikan contoh bagaimana mensosialisasikan budaya bangsa ke tengah-tengah percaturan budaya global. Meskipun di tanah air, film-filmnya—seperti Bulan Tertusuk Ilalang, Surat untuk Bidadari, maupun Opera Jawa—kurang diminati oleh masyarakat, namun di level internasional mampu ‘berbicara banyak’.

Dalam seni musik beberapa kelompok musik yang memadukan unsur tradisi dan modern juga berhasil merebut simpati internasional dengan garapan-garapan mereka. Krakatau, misalnya, dengan ramuan jazz-karawitan berhasil mengusung seni glokal Indonesia ke beberapa festival berlevel internasional, baik di Amerika maupun Eropa. Kelompok Reggae-Sundanese dari Bandung juga berhasil memadukan rancaknya kendang dan angklung Sunda dengan komposisi instrumen modern dan mampu memukau masyarakat di Belanda dan Belgia. Begitupula yang dilakukan oleh Emha Ainun Nadjib dengan Kyai Kanjeng yang memadukan shalawatan dengan gamelan serta instrumen modern. Seniman gamelan Yogyakarta, Sapto Rahardjo, juga berhasil berkolaborasi dengan seniman musik kontemporer Perancis untuk membuat beberapa album gamelan kontemporer dan sangat digemari di Perancis.

Sayangnya, produk-produk seni glokal yang mereka hasilkan kurang begitu menarik bagi generasi muda Indonesia yang lebih memilih hingar-bingar musik industri bernuansa barat. Namun, prestasi internasional mereka paling tidak menandakan bahwa produk-produk seni glokal Indonesia masih bisa diterima di level internasional. Dan untuk menjadi produk-produk yang bisa berkontestasi di level global, perlu kiranya kalangan industri budaya Indonesia melirik potensi kreatif yang dimiliki para seniman tersebut untuk kemduian memasarkannya melalui jaringan-jaringan media global. Hal serupa sangat mungkin diterapkan bagi seni campursari dan seni tradisi populer lainnya.

 

Simpulan: yang dibutuhkan adalah kejelasan dalam globalisasi

Tentu kondisi tersebut bisa terwujud ketika para pemegang kebijakan dan kalangan industri bisa melakukan kerjasama sinergis. Artinya pemerintah tidak lagi harus bersifat mendua dalam memaknai globalisasi sebagaimana yang terjadi selama ini. Para pemegang kebijakan budaya di Indonesia memang terkesan bermuka dua. Di satu sisi mereka selalu mengagung-agungkan budaya bangsa yang selalu dikatakan adiluhung dan luhur namun tidak pernah membuat langkah konkrit untuk mengembangkannya. Di sisi lain mereka tidak pernah membatasi masuknya produk-produk budaya global.

Yang mesti dilakukan oleh pemegang kebijakan budaya saat ini adalah bagaimana menyusun strategi dan langkah untuk tetap mengembangkan kesenian tradisi-lokal yang benar-benar dianggap sebagai jatidiri bangsa sehingga bisa kembali menjadi salah satu tontonan yang menarik bagi generasi muda karena melarang mereka untuk menonton kesenian industri global juga sangat tidak bijak. Di samping itu pemerintah juga sudah membuat kebijakan yang mampu mendorong penciptaan kesenian glokal yang tetap berlandaskan keragaman tradisi-lokal sekaligus menyiapkan infrastruktur industri yang mampu memasarkan produk-produk mereka ke tataran global. Ada beberapa ketuntungan yang bisa diraih dengan terwujudnya kebiajakn tersebut, yakni: (a) masuknya keuntungan finansial bagi negara; (b) dikenalnya kultur Indonesia sehingga sekaligus menjadi promosi untuk mendatangkan wisatawan mancanegara; dan, (c) semakin kreatifnya generasi muda Indonesia dalam mengola potensi seninya, tentu, dengan tetap berlandaskan pada kekayaan kultur tradisi-lokal.

Sedangkan untuk kesenian tradisi-lokal, pemerintah perlu kiranya segera mereformulasi kebijakannya sehingga tidak terkesan menganaktirikannya. Selama ini kebijakan dalam kesenian terkesan seremonial dan parsial belaka dengan mengadakan lomba dan festival tanpa memperhatikan aspek-aspek pengembangan yang bersifat substansial. Pemberian dana untuk latihan dan pengembangan yang pengelolaannya dipantau secara profesional bisa terus menciptakan para seniman untuk mengembangkan keseniannya sehingga masyarakat pendukung akan terus mencintainya. Di beberapa daerah, seperti Banyuwangi, kesenian tradisi-lokal bahkan sudah dimasukkan ke dalam kurikulum lokal bagi siswa SD dan SMP sehingga sejak dini siswa diusahakan untuk mencintai dan mempelajari kekayaan kulturalnya. Dengan demikian kesenian tradisi-lokal bisa tetap ada dan tetap bisa menjadi inspirasi bagi lahirnya kesenian-kesenian glokal yang sangat diharapkan bisa mengglobal.

Memang, sudah saatnya segenap elemen bangsa ini bersikap dewasa dalam memaknai globalisasi. Karena hanya mereka yang siap menghadapi globalisasilah yang akan mampu survive dalam cepatnya perputaran budaya dan modal. Kalau tidak, maka lagi-lagi kita hanya menjadi penonton dan konsumen dari pertunjukan global sembari terus menonton Madonna dengan tampilan seksinya dan hanya sebatas mengenang Waljinah dengan suara langgamnya yang pernah begitu memukau.

 

Catatan akhir

[1] Dikutip dari Giovanni Arrighi. “Globalization, State Sovereignity, and the ‘Endless’ Accumulation of Capital”, dalam http://fbc.binghantom.edu (terj. penulis), diakses pada 1 Agustus 2004.

[2] Giovanni E. Reyes.2001. “Theory of Globalization: Fundamental Basis”, dalam http://sincronia.cucsh.udg.mx/globaliz.htm, diakses pada 21 Desember 2006 (terj. penulis)

 

[3] Manfred B Steger.2006. Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar (terj. Heru Prasetya). Yogyakarta: Iafadl.hlm.38-40.

[4] Technocapitalism merupakan sintesa antara kapital dan teknologi dalam organisasi masyarakat kontemporer. Konsep ini menekankan pada meningkatkanya peran teknologi serta semakin kompleksnya relasi kapital dalam proses produksi. Struktur organisasi masyarakat, dengan demikian, tetap saja berada dalam lingkaran produksi dan akumulasi kapital dimana kaum kapitalis semakin mendominasi proses produksi, distribusi, dan konsumsi. Lihat, Douglas Kellner, Theorizing Globalization, dalam http://www.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/

[5] Steger.Op.cit.hlm.45.

[6] Ibid.hlm.47-48.

[7] Ibid.hlm.54.

[8] Dikutip dari Charles Ess.2001. “Introduction”, Culture, Technology, Communication: Toward an Intercultural Global Village.New York: State University of New York Press.hlm.2.

[9] Roland Robertson.1995. “Globalization and ‘Glocalization’: Time-Space and Homogenity-Heterogenity”, dalam Mike Featherstone, Scott Lash, and Roland Robertson. Global Modernities. London: Sage Publication.hlm.24-44.

[10] Theodor Adorno and Max Horkheimer, The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception, dalam www.marxist.org. (terj. penulis)

 

[11] Nicholas Granham.”On the Cultural Industries”, dalam Paul Marris & Sue Torham (eds).1997. Media Studies: A Reader. Edinburg: Edinburg University Press.hlm.78

[12] Howard. S. Backer. 1982. Art World. Barkeley: University of California Press.hlm.122-129.

[13] George Ritzer.2006.The Globalization of Nothing, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi (terj. oleh Lucinda M, peny. Heru Nugroho). Yogyakarta: Penerbitan Univeritas Atmajaya Yogyakarta.hlm.99.

[14] Ibid.

[15] Dalam paparannya tentang signifikansi pemikiran ideologi Louis Althusser terhadap kajian budaya populer, Storey mengungkapkan bahwa ideologi merupakan representasi dari keterhubungan imajiner individu-individu dengan kondisi riil dari eksistensi. Ideologi dipandang sebagai praktik material yang hidup dan dijalani—semisal ritual, kebiasaan, dan bentuk-bentuk perilaku—yang direproduksi melalui praktik dan produksi dari aparat ideologis. Aparat ideologis ini bisa berupa: pendidikan, agama-agama formal, keluarga, partai politik, media massa, industri budaya, dan lain-lain. Dalam konteks kajian ini yang menjadi aparat ideologis adalah media dan industri budaya. Selanjutnya bisa dibaca dalam John Storey. 1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.hlm.117-118. (terj. penulis)

[16] Di Yogyakarta yang sampai saat ini masih dianggap sebagai representasi kota budaya, apabila berjalan-jalan di beberapa mall—semisal Malioboro Mall, Galeria Mall, Ambarukmo Plaza, maupun Ramayana Department Store—kita akan melihat banyak anak muda yang mengenakan pakaian ala entertainer barat yang juga ditiru-tiru entertainer Indonesia. Para gadis, misalnya, banyak mengenakan kaos casual yang sangat mini sehingga (maaf!) bagian pinggang bagian bawah dan pusar kelihatan.

[17] Wacana menurut Foucault merupakan sekelompok pernyataan yang menghasilkan bahasa untuk berbicara—sebuah cara untuk merepresentasikan pengetahuan tentang—topik tertentu pada momen historis tertentu, sebuah produksi pengetahuan melalui bahasa. Selebihnya bisa dibaca dalam Stuart Hall. “Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). 1997. Representation, Cultural Representations and Signifying Practice. London: Sage Publication in assosiation with The Open University Press.hlm.44.

[18] Formasi diskursif merupakan kerangka kerja bagi berlangsungnya pemikiran-pemikiran tentang wacana tertentu yang mana antara pemikiran yang satu dan yang lain mempunyai kesamaan serta dilakukan dalam tindakan diskursif melalui institusi-institusi yang ada dalam masyarakat. Formasi diskursif ini akan berusaha menegasikan atau bahkan menyingkirkan pemikiran yang bertentangan dengan wacana yang tengah berlangsung karena dianggap akan mengganggu keberadaan relasi kuasa. Ibid.

[19] Carl Boggs.1984. “The Theory of Ideological Hegemony” dalam Carl Boggs. The Two Revolutions: Gramsci and the Dilemmas of Western Marxism. Boston: South End Press.hlm.160-161.

[20] Mouffe, Chantal.1981. “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Tony Bennet, Graham Martin, Collin Mercer, & Janet Woolacott. Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.hlm.224-225.

[21] Beberapa perusahaan industri budaya transnasional yang mendirikan perusahaan di Indonesia antara lain Warner Music, Sony Music, EMI Music, dan Billbroad. Dalam praktiknya, mereka tidak hanya mengedarkan album-album dari band berbasis di Amerika, tetapi juga merekam dan mengedarkan album-album dari band Indonesia.

[22] Menurut pengamatan penulis, stasiun televisi swasta yang masih menyisakan ruangnya untuk pertunjukan kesenian tradisi-lokal adalah TPI dengan tayangan Wayang Golek serta Indosiar dengan tayangan Wayang Kulit. Itupun semuanya ditempatkan bukan pada prime time.

[23] Budi Setiono.2003. “Campursari: Nyanyian Jawa Poskolonial”, dalam Budi Susanto (ed). Identitas dan Poskolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino bekerjasama dengan Penerbit Kanisius.hlm.221.

[24] Kendang kempul adalah kesenian populer di Banyuwangi yang mirip dangdut. Instrumen yang dipakai adalah kendang Banyuwangi, kempul, keyboard, biola, gitar, gitar bass. Sedangkan liriknya menggunakan bahasa Using (bahasa mayoritas penduduk Banyuwangi, selain Jawa dan Madura. Dalam perkembangannya, kendang kempul tidak melulu berirama dangdut tetapi juga memasukkan irama musik bosas maupun blues.

[25] Kellner.Op.cit.

Daftar Bacaan

Adorno, Theodor and Max Horkheimer, The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception, dalam www.marxist.org, diakses pada 23 Oktober 2005.

Arrighi, Giovanni. “Globalization, State Sovereignity, and the ‘Endless’ Accumulation of Capital”, dalam http://fbc.binghantom.edu, diakses pada 1 Agustus 2004.

Backer, Howard. S.1982. Art World. Barkeley: University of California Press.

Carl Boggs.1984. “The Theory of Ideological Hegemony” dalam Carl Boggs. The Two Revolutions: Gramsci and the Dilemmas of Western Marxism. Boston: South End Press.

Mouffe, Chantal.1981. “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Tony Bennet, Graham Martin, Collin Mercer, & Janet Woolacott. Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.

Ess, Charles 2001. “Introduction”, Culture, Technology, Communication: Toward an Intercultural Global Village.New York: State University of New York Press.

Granham, Nicholas.1997. ”On the Cultural Industries”, dalam Paul Marris & Sue Torham (eds). Media Studies: A Reader. Edinburg: Edinburg University Press.

Hall, Stuart.1997. “Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representations and Signifying Practice. London: Sage Publication in assosiation with The Open University Press.

Kellner, Douglas. Theorizing Globalization, dalam http://www.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/

Ritzer, George.2006.The Globalization of Nothing, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi (terj. oleh Lucinda M, peny. Heru Nugroho). Yogyakarta: Penerbitan Univeritas Atmajaya Yogyakarta.

Reyes, Giovanni E.2001. “Theory of Globalization: Fundamental Basis”, dalam http://sincronia.cucsh.udg.mx/globaliz.htm, diakses pada 21 Desember 2006

Robertson, Roland.1995. “Globalization and ‘Glocalization’: Time-Space and Homogenity-Heterogenity”, dalam Mike Featherstone, Scott Lash, and Roland Robertson. Global Modernities. London: Sage Publication.

Setiono, Budi.2003. “Campursari: Nyanyian Jawa Poskolonial”, dalam Budi Susanto (ed). Identitas dan Poskolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino bekerjasama dengan Penerbit Kanisius.

Steger, Manfred B.2006. Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar (terj. Heru Prasetya). Yogyakarta: Iafadl.

Storey, John.1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.