Skip to toolbar

MEMBACA BUDAYA (YANG BUKAN) ADILUHUNG

SALAM,

Budaya bagi saya merupakan nilai, praktik, bentuk, dan orientasi yang tidak mengedepankan sesuatu yang bersifat adilihung. Perspektif keadiluhungan budaya hanya akan memosisikannya sebagai sesuatu yang esensial, statis, dan selalu digunakan semata-mata untuk menegaskan identitas sebuah kelompok etnis, gender, agama maupun bangsa. Budaya, dengan demikian, merupakan sebuah entitas yang bersifat dinamis, berubah, dan menjadi karena ia berada dalam lingkaran berbagai macam faktor ekonomi, politik, sosial, gender, etnis, kelas.

Dalam kerangka demikian, saya memahami budaya sebagai sesuatu yang biasa, sehari-hari, tekstual, kontekstual, tetapi di dalamnya terdapat tegangan, kontestasi, negosiasi, artikulasi, kepentingan, dan relasi kuasa. Ia bisa berbentuk film, tayangan televisi, musik pop, berita televisi, berita di koran, iklan cetak dan televisi, kesenian lokal, norma-norma yang mengikat, perbedaan gender, cangkrukan di kafe atau warung kopi, praktik belanja di mall maupun pasar desa. Artinya, hal-hal yang oleh paradigma lama dianggap sebagai sepele (trivial), ternyata terdapat di dalamnya bermacam makna, wacana, dan kepentingan politiko-ideologis yang mengalir secara wajar sehingga seringkali dianggap tanpa kepentingan. Pun, dalam praktik kesenian lokal yang sudah berlangsung turun-temurun, tidak bisa hanya dipahami sebagai ekspresi dan struktur estetik yang bernilai luhur, tanpa melihat dinamika dan transformasi serta kontestasi yang melibatkan para pelaku di dalamnya, termasuk faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi proses tersebut.

Dalam sebuah iklan sabun mandi di sela-sela tayangan televisi, misalnya,  seorang ibu memandikan dua anaknya dengan riang gembira. Secara denotatif, begitulah makna yang ditawarkan iklan tersebut, sehingga diharapkan pemirsa mau membeli produk sabun tersebut. Namun, apabila dibaca secara kritis, kita bisa menemukan wacana betapa perempuan tetap ditempatkan dalam kerja-kerja domestik–rumahan, seperti memandikan anak. Tentu, ini tidak bisa dipahami sekedar untuk menarik minat calon konsumen. Lebih dari itu, para kreator iklan tersebut membuat representasi dengan menimbang wacana dan praktik gender dan kultural yang masih dominan di masyarakat.

Kesenian gandrung Banyuwangi, sebagai kesenian lokal, selama ini lebih banyak dipahami sebagai identitas yang sangat membanggakan. Namun, kalau kita telusuri lagi, proses dijadikannya gandrung sebagai tarian khas Banyuwangi juga tidak bisa dilepaskan dari usaha rezim negara melalui para budayawan untuk membuat ikon khas yang bisa menguntungkan dalam aspek wisata serta mengkerangkai ekspresi lokal dalam format selebrasi, bukan penegasan kekuatannya untuk membangkitkan masyarakat lokal dan pelaku kesenian ini. Di sisi lain, para penari gandrung harus berjuang untuk menegosiasikan kepentingan ekonomi mereka di balik ‘keadiluhungan’ yang dilekatkan kepada kesenian ini, sedangkan rezim negara sangat jauh dari kata “memperhatikan” nasib mereka.

Model pembacaan dan pemahaman seperti itulah yang akan banyak saya hadirkan dalam blog baca-budaya ini. Artikel lepas maupun artikel jurnal yang saya posting di sini memosisikan budaya sebagai proses dinamis dan transformatif yang penuh negosiasi dan kepentingan. Saya juga tidak hanya akan membincang budaya lokal, tetapi juga berbagai macam bentuk dan ekspresi budaya pop. Mengapa? Karena di dalam “yang pop”, pada dasarnya, mengalir representasi yang penuh makna dan wacana ideologis serta tidak bisa dipisahkan dari kepentingan-kepentingan dalam formasi masyarakat. Demikianlah, budaya adalah sesuatu yang biasa, mengalir, bertransformasi, dan berubah….

Ikwan Setiawan.